Fenomena Mikropenis Pada Anak Meningkat, Begini Saran Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Denpasar

Fenomena yang banyak dialami anak-anak yang menginjak usia remaja ini dimana terdapat anomali pada bentuk dan ukuran organ vitalnya

Fenomena Mikropenis Pada Anak Meningkat, Begini Saran Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Denpasar
Tribun Bali/M Ulul Azmy
Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Denpasar, dr Oka Negara, FIAS,. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ada fenomena baru dalam bidang seksologi hari ini.

Fenomena yang banyak dialami anak-anak yang menginjak usia remaja ini dimana terdapat anomali pada bentuk dan ukuran organ vitalnya, yakni penis.

Menurut Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia Cabang Denpasar, dr Oka Negara, FIAS, terkait fenomena ini sebenarnya bisa merujuk pada dua kemungkinan, yakni mikropenis atau small penis syndrome

Dijelaskan Oka, mikropenis merupakan fenomena pengecilan ukuran organ reproduksi secara ekstrem yang diakibatkan oleh kadar hormon testosteron yang rendah dimana testosteron merupakan spermatogenesis atau proses pembentukan sperma.

"Pengecilan (mikropenis, red) ini merupakan gejala disfungsi yang bisa jadi berpengaruh pada fungsi organ seksual kedepannya. Beda lagi kalau small penis syndrome itu masih tergolong normal," terangnya saat ditemui di Fakultas Kedokteran (FK) Unud, Selasa (15/5/2018).

Kendati demikian, Oka masih belum bisa memastikan jumlah kasus anak yang mengalami mikropenis di Bali secara pasti.

Namun dalam kurun sebulan ini, dirinya pernah menjumpai dua sampai tiga anak yang berobat ke tempat praktiknya dan mengalami kasus mikropenis.

“Mikropenis dapat terjadi pada anak-anak maupun dewasa. Harus segera ditangani jika sudah terlihat dari usia dini. Jika sudah dewasa akan susah diobati atau diperbaiki. Jadi, meski mengalami mikropenis bagi orang yang sudah dewasa, fungsi seksualnya tidak bisa maksimal,” ujar dosen Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Udayana Departemen Andrologi dan Seksologi ini.

Ditanya soal faktor penyebab mikropenis ini kata Oka, kemungkinan besar disebabkan oleh konsumsi makanan junk food secara berlebih.

Sering kali dijumpai anak-anak zaman now lebih sering mengonsumsi makanan dengan kadar gizi yang rendah, bahkan sejak masih kecil.

Halaman
123
Penulis: eurazmy
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help