Ini Alasan Mengapa Waktu Memasuki Musim Kemarau di Bali Tidak Bersamaan

Pulau Bali memiliki 15 zona musim sehingga menyebabkan masing-masing daerah di Bali memasuki waktu musim kemarau yang berbeda-beda

Ini Alasan Mengapa Waktu Memasuki Musim Kemarau di Bali Tidak Bersamaan
Tribunnews
Ilustrasi musim kemarau 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Tahukah anda?

Ternyata Pulau Bali yang mungil ini memiliki 15 zona musim.

Hal itu menyebabkan masing-masing daerah di Bali memasuki waktu musim kemarau yang berbeda-beda.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Subbidang Pelayanan Jasa BMKG Wilayah III Denpasar, Decky Irmawan.

Decky menjelaskan, wilayah Nusa Penida misalnya, memasuki musim kemarau lebih awal, yaitu sekitar bulan Februari dan Maret.

"Begitu pula bulan Juni nanti. Ada daerah yang tertinggal atau masuk musim kemaraunya belakangan. Tetapi, berdasarkan analisis kami, sekitar akhir Juni atau awal Juli, wilayah Bali sudah seluruhnya memasuki musim kemarau," kata Decky.

Meskipun sebuah wilayah telah memasuki musim kemarau, kata Decky, bukan berarti tidak akan turun hujan.

Musim kemarau dapat dimaknai bahwa dalam satu dasarian (10 hari), jumlah curah hujannya kurang dari 50 mm.

Perhitungan tersebut diikuti oleh dasarian selanjutnya selama satu bulan.

Dengan kalimat lain, pada periode musim kemarau, jumlah curah hujan dalam kurun sebulan kurang dari 150 mm.

"Jadi, meskipun telah memasuki musim kemarau, bukan berarti tidak ada hujan sama sekali. Karena hujan bisa terbentuk oleh faktor-faktor lokal seperti angin barat atau timuran," imbuh Decky.

Dia menambahkan, berdasarkan analisis dinamika atmosfer yang dilakukan oleh BMKG, hingga bulan Oktober 2018 secara umum berlangsung normal.

"Dinamika kondisi iklimnya, sampai bulan Oktober secara umum prediksinya tidak ada gangguan el nino maupun lainnya. Tetapi, informasi ini akan terus dimutakhirkan," imbuhnya.(*)

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help