Leg Time Memasuki Musim Kemarau di Wilayah Bali, Begini Penjelasan BMKG

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa menjelaskan ada perbedaan tekanan cukup tinggi di antara utara dan selatan ekuator pada fenomena angin

Leg Time Memasuki Musim Kemarau di Wilayah Bali, Begini Penjelasan BMKG
ANTARA News/ BMKG
Ilustrasi: BMKG 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Ada istilah leg time (jeda waktu) dalam memasuki musim kemarau di Bali menurut BMKG.

Kepala Sub Bidang Pelayanan Jasa, Deki Irmawan saat ditemui Tribun Bali Rabu (16/5/2018) menjelaskan, ada perbedaan tekanan cukup tinggi di antara utara dan selatan ekuator pada fenomena angin.

Tekanan tinggi di selatan ekuator yang berasal dari Australia, kemudian ada tekanan rendah di utara ekuator sebelah timur Filipina, perbedaan tersebut memungkinkan kecepatan angin cukup tinggi.

Selain itu, ada pengaruh siklon tropis yang kemungkinan berada di utara ekuator. 

"Jadi musim-musim seperti ini, posisi gerak matahari sedang di utara ekuator, jadi pemanasan matahari akan cukup tinggi diserap oleh permukaan bumi di sebelah utara, sehingga ada potensi temperatur air laut meningkat dari rata-rata. Maka dari itu, siklon tropis berada di utara ekuator," jelasnya.

Dalam meteorologi, ada istilah leg time (jeda waktu).

Leg time terjadi ketika posisi gerak matahari sedang berada di utara ekuator, namun wilayah yang ditinggalkan tidak serta merta mendingin.

Lanjutnya, misal pada bulan April posisi matahari sudah di posisi utara ekuator, tidak serta merta daerah tersebut langsung panas, sebaliknya tidak serta merta daerah yang ditinggalkan langsung mendingin, ini yang disebut perlu adanya waktu atau leg time.

"Sejalan dengan bulan Mei ini, mulai mendingin dibandingkan bulan April. Secara umum penerimaan matahari lebih diserap di daerah utara ekuator," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help