Teror Bom di Surabaya

Tiap Minggu Dicekoki Doktrin Terorisme, Polisi Ungkap Ada 1 Anak yang Tolak Ikut Ajaran Orangtuanya

Polisi menemukan sejumlah bahan peledak ketika melakukan penggeledahan di rumah Tri Murtiono, pengebom Polrestabes Surabaya.

Tiap Minggu Dicekoki Doktrin Terorisme, Polisi Ungkap Ada 1 Anak yang Tolak Ikut Ajaran Orangtuanya
Istimewa/Sumber kepolisian
Foto keluarga terduga pelaku serangan bom bunuh diri di tiga gereja di Surabaya 

"Mereka ini satu jaringan, satu guru. Gurunya Dita. Mereka didoktrin pemahaman teror," jelas Machfud di Polda Jatim, Surabaya, Selasa. Machfud menuturkan, mereka berkumpul setiap minggu sejak lama.

Selain menerima doktrin, Tri dan Anton juga menonton film-film soal terorisme.

Tidak hanya para orangtua, kata Machfud, anak anak mereka juga ikut mendengarkan doktrin dari Dita.

"Bahkan, anak anak pelaku dilarang sekolah. Kalau ditanya, mereka bilang (anak-anak) ikut home schooling. Padahal sebenarnya mereka tak boleh sekolah. Anak anak didoktrin terus, ditontonkan video mengenai teroris," ujar Machfud.

Kapolda menambahkan ada seorang anak Anton Febrianto yang tak mau ikut kelompok itu. Dia memilih ikut neneknya dan memutuskan untuk bersekolah.

Machfud menerangkan, para pelaku kompak melakukan serangan bom bunuh diri di Surabaya dan Sidoarjo ini lantaran ini ingin masuk surga.

"Mereka (pelaku) ini ingin masuk surga bareng bareng," terang Machfud.

Menurut Kapolda, saat ini Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror tengah memburu sosok yang menjadi guru dari Dita.

"Ada dua orang yang sedang dikejar, mudah mudahan cepat ditangkap. Dua orang ini perannya sangat penting," jelas Machfud.

Warga keluar rumah

Halaman
123
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Jakarta
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help