Belasan WNA Jepang Ikut Menangis Histeris Saat Jenazah Pekak Jegog Hendak Diaben

Tak hanya di Kabupaten Jembrana dan Bali, nama besar Pekak Jegog ini juga sudah dikenal akrab di kalangan seniman di negeri Jepang.

Belasan WNA Jepang Ikut Menangis Histeris Saat Jenazah Pekak Jegog Hendak Diaben
Tribun Bali / I Gede Jaka Santhosa
Prosesi Palebon Pekak Jegog yang diiringi tabuh Jegog Sidakarya dan tarian Putri Bambu yang berada di depan iring-iringan bade di Desa Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, Bali, Rabu (16/5/2018). 

TRIBUN-BALI.COM - Berpulangnya maestro kesenian tabuh Jegog dari Kabupaten Jembrana, Bali, Dr. I Ketut Suwentra alias Pekak Jegog, tak hanya membawa duka yang mendalam bagi pihak keluarga yang ditinggalkan, tapi juga pecinta seni tabuh Jegog dari berbagai negara.

Mereka pun menangis histeris saat sang maestro diaben.

Ratusan warga berpakaian serba hitam memenuhi rumah duka Pekak Jegog di Desa Sangkaragung, Kecamatan Jembrana, sedari pagi hari, Rabu (16/5/2018). Anggota DPD RI dari Bali, Anak Agung Ngurah Oka Ratmadi alias Cok Rat, yang merupakan besan dari Pekak Jegog juga tampak hadir melayat.

Tak hanya di Kabupaten Jembrana dan Bali, nama besar Pekak Jegog ini juga sudah dikenal akrab di kalangan seniman di negeri Jepang.

Tak heran jika upacara Palebon almarhum tersebut turut dihadiri oleh puluhan seniman dari Negeri Sakura yang menganggap Pekak Jegog sebagai sensei (guru) mereka.

Kecintaan serta konsistensi pencipta tarian Makepung ini terhadap kesenian tabuh Jegog dibuktikan dengan mendirikan Yayasan Suar Agung yang diketahui telah mencetak para penabuh Jegog hingga berlanjut sampai tujuh generasi.

Maestro tabuh Jegog ini juga menitipkan pesan kepada keempat anaknya dan seluruh seniman agar tetap mengumandangkan kesenian ini.

Bahkan, pada saat proses masuugan (bertanya kepada arwah almarhum), sang maestro meminta agar tabuh Jegog Sidakarya dan tarian Putri Bambu menyertai proses Palebonnya.

Almarhum juga meminta saat diaben agar disertakan topi koboi dan kacamata kesayangannya.

Kesedihan menyeruak ketika bade Pekak Jegog mulai dibawa ke jalan menuju Setra di Desa Pekraman Sangkaragung sekitar pukul 09.30 Wita.

Halaman
123
Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help