Waspada Sindrom PCOS, Gangguan Yang Sebabkan Seorang Wanita Sulit Hamil, Ini 3 Gejalanya

Walau sindrom polisistik ovarium (PCOS) diderita sekitar 5 juta wanita setiap tahun, tetapi banyak orang yang tidak mengenalnya.

Waspada Sindrom PCOS, Gangguan Yang Sebabkan Seorang Wanita Sulit Hamil, Ini 3 Gejalanya
boldsky.com
Ilustrasi hamil 

TRIBUN-BALI.COM - Walau sindrom polisistik ovarium (PCOS) diderita sekitar 5 juta wanita setiap tahun, tetapi banyak orang yang tidak mengenalnya.

PCOS terjadi ketika ovarium wanita atau kelenjar adrenal memproduksi hormon laki-laki, seperti testoteron, lebih banyak dari normal.

Akibatnya terjadi gangguan keseimbangan hromonal. Menurut Departemen Kesehatan Amerika Serikat, PCOS bisa menyebabkan terbentuknya kista di ovarium serta kesulitan hamil.

Ini terjadi karena sel telur susah matang atau dilepaskan saat menstruasi.

Setidaknya ada 3 gejala PCOS, yaitu menstruasi tidak teratur atau tidak haid, kadar hormon pria lebih tinggi, dan ada kista yang bisa dideteksi dengan USG.

Gejala lain adalah tumbuhnya rambut pada tempat-tempat yang tidak semestinya, misalnya pada bagian wajah wanita.

Ketidakseimbangan hormonal ini juga menyebabkan wajah selalu berjerawat, kegemukan atau berat badan susah turun, rambut rontok, serta area kulit di bagian leher berwarna lebih gelap. Penyebab Penyebab pasti PCOS memang belum terlalu jelas.

Namun, para ahli menyebut hal ini terkait erat dengan faktor genetik.

Menurut studi terbaru yang dilakukan Dr.Paolo Giacobini dari Perancis, diketahui bahwa wanita hamil yang menderita PCOS akan memiliki hormon AMH lebih tinggi.

Selain sulit hamil, PCOS juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.

Misalnya saja lebih rentan diabetes melitus, kegemukan, penyakit jantung, atau hipertensi. Untuk mendeteksi PCOS dokter akan melakukan pemeriksaan pelvis, tes darah, atau pun USG untuk melihat kondisi rahim dan ovarium.

Mayoritas gejala PCOS bisa diatasi dengan pengaturan pola makan dan perubahan gaya hidup.

Obat untuk mengobati kondisi ini memang tidak ada, tetapi terkadang dokter meresepkan pil KB untuk menyeimbangkan hormon. (*)

Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved