Pentas Gamelan Salukat Kebyar Baru bersama Dewa Alit di Bentara Budaya Bali

Gamelan gong kebyar lahir pada awal abad ke-20 (1915), yang kala itu merupakan musik gamelan kontemporer

Pentas Gamelan Salukat Kebyar Baru bersama Dewa Alit di Bentara Budaya Bali
Tribun Bali/Ni Ketut Sudiani

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Gamelan gong kebyar lahir pada awal abad ke-20 (1915), yang kala itu merupakan musik gamelan kontemporer (new music), kini sejalan zaman telah menjadi musik tradisi.

Kualitas musik yang sebelumnya sangat tinggi, kini perlahan-lahan meredup seakan kehilangan arah untuk kembali ke jati dirinya.

Pentas Gamelan Salukat kali ini mencoba membaca fenomena Kebyar tersebut, sekaligus menawarkan sebentuk komposisi Kebyar Baru.

Tampil sejumlah komposisi seperti Caru Wara, Kedituan (new music for gamelan), Land Is Talking (music for ricikan and gong), GeringSing (tari baru model palegongan klasik, koreografer Dayu Arya Satyani) dan Somewhere There (music for piano/carillon and gamelan kebyar). Sebagai pianis adalah Tomoko Nishizawa

Pertunjukan Kebyar Baru ini menawarkan pergerakan kesenian yang inovatif, dengan harapan seni musik kebyar tidak terjebak pada pengertian sempit dalam kehidupannya yang mapan dan monoton pada wilayah musik tradisional.

Dewa Alit lahir dari keluarga seniman di Bali.

Ia diakui sebagai salah satu komposer "avantgrade", namun tetap mempertimbangkan nilai-nilai tradisi dalam musiknya.

Karyanya “Geregel” (2000) berpengaruh baik di Bali maupun di luar negeri, bahan analisis 50 halaman pada “ The Perspectives on New Music”.

Ia kerap mengajar dan membuat komposisi di luar negeri.

Diantaranya "Semara Wisaya” untuk gamelan di Boston, Galak Tika di Massachusetts Institute of Technology, dan ditampilkan di New York Carnegie pada tahun 2004, “Pelog Slendro” di Bang on a Can Marathon (Juni 2006).

Komposisi “Open My Door” tahun 2014 untuk Ensemble Modern dari Frankfurt, Jerman.

Kelompok ini sekarang mempersiapkan tur Eropa pertama mereka pada bulan Juni 2018.(*)

Penulis: Ni Ketut Sudiani
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help