Tradisi Ngejot di Banjar Piling Kanginan, Wujud Kerukunan Antarumat Beragama

Warga Banjar Piling Kanginan tampak membawa bungkusan berjalan mengunjungi satu per satu rumah warga lainnya

Tradisi Ngejot di Banjar Piling Kanginan, Wujud Kerukunan Antarumat Beragama
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Sejumlah warga umat Hindu saat ngejot di salah satu rumah warga umat Kristen di Banjar Piling Kanginan, Desa Mengesta, Penebel, Tabanan, Selasa (29/5/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Warga Banjar Piling Kanginan, Desa Mengesta, Penebel, Tabanan, tampak membawa bungkusan berjalan mengunjungi satu per satu rumah warga lainnya, Selasa (29/5/2018) kemarin.

Aktivitas tersebut dinamai dengan Ngejot atau berbagi makanan kepada warga sekitar.

Namun, di Banjar Piling sedikit berbeda, ngejot di banjar setempat merupakan wujud toleransi beragama antarwarga yang beragama Hindu dengan warga beragama Kristen.

Dari tradisi tersebut, ternyata memiliki nilai historis yang sangat luar biasa.

Menurut pantauan Tribun Bali, sejak pukul 07.00 Wita, seluruh krama banjar tampak membagi makanan di setiap rumah warga umat Kristen.

Sejumlah makanan yang sering dibagi seperti lawar, tum, brengkes, jajan (tape jaje uli, jajan Bali) sate, nasi, be nyatnyat (be genyol), dan penyon (lawar nangka).

Tradisi ini selalu dilakukan setiap Hari Raya Galungan tepatnya pada penampahan Galungan.

Sedangkan, tradisi ngejot dilakukan umat Kristiani saat perayaan Hari Natal.

“Tradisi ngejot ini sudah dilakukan secara turun temurun. Hal ini merupakan wujud dari kerukunan beragama dan toleransi,” ujar Kelian Banjar Dinas Piling Kanginan, I Wayan Agus Setiawan saat ditemui Tribun Bali, kemarin.

Dia menyebutkan, dari 141 kepala keluarga (KK) atau 488 warga yang tinggal di Banjar Piling Kanginan, sebanyak 66 (20 KK) merupakan warga yang menganut agar Kristen Katolik dan Protestan.

Halaman
123
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help