Penjelasan Ilmiah Tentang Terbentuknya Pulau Bali 15 Juta Tahun Yang Lalu, Bukan Terputus Dari Jawa

Yang lebih banyak berkembang di masyarakat terkait terbentuknya Pulau Bali adalah legenda Naga Basuki dan Bagawan Sidi Mantra.

Penjelasan Ilmiah Tentang Terbentuknya Pulau Bali 15 Juta Tahun Yang Lalu, Bukan Terputus Dari Jawa
Tribun Bali/Fauzan Al Jundi
pulau bali 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Proses terbentuknya Pulau Bali ternyata memerlukan waktu yang sangat panjang.

Selama ini, yang lebih banyak berkembang di masyarakat terkait terbentuknya Pulau Bali adalah legenda Naga Basuki dan Bagawan Sidi Mantra.

 Kisah epik tersebut menceritakan tentang terputusnya daratan Pulau Jawa dan Bali.

Namun, ada pula versi lain dari perspektif ilmu geologi.

Ketua Ikatan Ahli Geologi Indonesia Pengurus Daerah Bali, I Ketut Ariantana menjelaskan pembentukan Pulau Bali bukan merupakan pecahan dari Pulau Jawa, ataupun pulau-pulau lainnya.

Hal itu dia disampaikan saat menjadi salah satu pemateri dalam Diklat Penyuluh Mitigasi Bencana Gunung Api yang diselenggarakan oleh Pusat Pengembangan Sumber Daya Manusia Geologi, Mineral dan Batubara di Grand Inna Kuta, Badung, Senin (4/6/2018).

Berdasarkan pemodelan yang dilakukan oleh Robert Hall, kata dia, Pulau Bali terbentuk sekitar 15 juta tahun yang lalu.

 Semula ditandai dengan gerakan lempeng yang muncul ke permukaan dan berbentuk gunung.

Batuan tertua sebagai cikal bakalnya Pulau Bali terdapat di wilayah Ulakan, Karangasem. 

 Setelah mengalami berbagai tumbukan, muncullah gunung-gunung yang lain.

"Orang mungkin tidak terbayang bahwa Danau Beratan sebenarnya adalah kaldera dari Gunung Buyan Beratan. Gunung ini sekarang sudah jadi gunung mati (tidak aktif)," kata Ariantana.

Berdasarkan tinjauan secara geologi tersebut, menurut Ariantana, Bali sebenarnya sudah terbiasa dengan bencana gunung api ataupun gempa tektonik.

Hanya saja, rentang waktu terjadinya bencana geologi seperti erupsi gunung api di Bali tergolong panjang.

Hal itu membuat masyarakat Bali seolah tidak siap dalam hal mitigasi bencana saat erupsi Gunung Agung pada 2017 lalu.

"Kita tinggal di pulau yang memiliki potensi bencana geologi seperti gempa tektonik, gerakan tanah, erupsi, atau tsunami," sambungnya. (*)

Penulis: Widyartha Suryawan
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved