Membuang Anak Anjing Sembarangan Jadi Penyebab Rabies Sulit Diatasi

Anjing masuk dalam kategori pet animal atau hewan peliharaan yang dekat dengan manusia dan menjadi kesayangan

Membuang Anak Anjing Sembarangan Jadi Penyebab Rabies Sulit Diatasi
Tribun Bali/Putu Supartika
Kabid Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran, Made Sukerni saat orasi di PB3AS, Minggu (10/6/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Anjing masuk dalam kategori pet animal atau hewan peliharaan yang dekat dengan manusia dan menjadi kesayangan, sehingga banyak pemiliknya menganggap anjing sebagai teman atau bahkan anak.

Oleh karena itu, Kabid Kesehatan Hewan, Kesehatan Masyarakat Veteriner, Pengolahan dan Pemasaran, Dinas Peternakan Provinsi Bali, Made Sukerni berharap anjing dipelihara di halaman, diberi makan, dan dirawat kesehatannya setiap hari.

Namun karena tak diinginkan, beberapa pemilik anjing membuang anak anjing miliknya sembarangan.

"Pemilik anjing sering membuang anak-anak anjing yang tidak diinginkan, di tempat sampah atau tempat yang tidak terjangkau oleh kami, yang akhirnya jadi anjing liar dan menularkan rabies," kata Sukerni dalam orasinya di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), di Lapangan Puputan Renon, Denpasar, Minggu (10/6/2018) pagi.

Membuang anak anjing sembarangan mengakibatkan penularan rabies sulit dikendalikan.

"Untuk diketahui anjing itu setiap bulan beranak 2 kali. Sekali beranak bisa 4 sampai 8 ekor. Bayangkan anjing liar 20 persen dari populasinya, akan bertambah 22 persen setiap tahun, ini tidak berkurang tetapi tambah banyak," imbuhnya.

Oleh karena itu, ia menghimbau agar anak anjing itu dipelihara dan dirawat dengan baik.

Selain itu, karena anjing dekat dengan manusia, tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi, sehingga keutuhan mutu dan kualitasnya tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Tanggal 6 April 2018 ada surat edaran Gubernur Bali untuk kabupaten kota agar bupati atau walikota melalui dinas terkait melakukan edukasi dan sosialisasi, serta pengawasan dan penertiban pedagang daging anjing atau pedagang RW. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help