Pacar Siswi SMK Buleleng yang Tewas Dalam Keadaan Hamil Ungkapkan Fakta Ini, Ada Penolakan

Polisi mengaku belum menerima hasil toksikologi serta hasil DNA secara resmi dari pihak forensik RSUP Sanglah, Denpasar

Pacar Siswi SMK Buleleng yang Tewas Dalam Keadaan Hamil Ungkapkan Fakta Ini, Ada Penolakan
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA- 18 hari sudah kasus tewasnya KS (20), siswi salah satu SMK di Buleleng, Bali dilidik pihak kepolisian. 

Siswi ini diduga meminum pil penggugur kandungan, di dalam kamar kosnya yang terletak di Banjar Kuta Banding, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Buleleng.

Hingga saat ini kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan pihak kepolisian sektor Kubutambahan.

Baca: Depe Bongkar Alasan Tak Hamil Saat Menikah dengan Saiful Jamil dan Aldi Taher, Gimana Mau Hamil?

Baca: Mobil Terios yang Dikendarai Seorang Wanita Seret 6 Kendaraan di Jalan Nusa Kambangan Denpasar

Polisi mengaku belum menerima hasil toksikologi serta hasil DNA secara resmi dari pihak forensik RSUP Sanglah, Denpasar.

Kapolsek Kubutambahan AKP Made Mustiada ketika dikonfirmasi pada Selasa (12/6/2018) mengatakan, hasil toksikologi serta DNA diperkirakan akan diterima oleh pihak kepolisian setelah hari raya Idul Fitri.

"Yang jelas kami masih melalukan pengembangan dan memeriksa saksi-saksi. Kami tidak berani memastikan sebab kami masih menunggu hasil lab forensik. Dan ini pun masih sedang dikerjakan oleh tim dokter forensik Denpasar," jelasnya.

Seperti diketahui, pihak forensik RSUP Sanglah sejatinya telah melakukan autopsi terhadap jenazah wanita asal Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng tersebut.

Hasilnya, pada rahim KS terdapat janin.

Atas dasar itu lah, selain melakukan uji toksikologi, polisi juga meminta pada pihak forensik RSUP Sanglah untuk melakukan tes DNA terhadap janin tersebut.

Untuk mengetahui ayah dari bayi berkelamin laki-laki yang berada di dalam kandungan KS.

Kepala Forensik RSUP Sanglah, dr. Dudut Rustyadi saat dikonfirmasi kembali menegaskan bahwa tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam hasil autopsi yang dilakukan pihaknya.

“Rahimnya tidak ada yang pecah atau luka . Tidak ada tanda-tanda kekerasan,” tegasnya saat dikonfirmasi Sabtu (2/6/2018).

Sementara, pacar KS yang diketahui berinisial KP hingga saat ini masih berstatus sebagai saksi.

KP masih mengamankan diri di Mapolsek Kubutambahan.

Mustiada menuturkan, KS dan KP memang berpacaran sejak tiga tahun yang lalu.

Dihadapan petugas, KP pun mengaku mengetahui jika sang kekasih dalam kondisi hamil delapan bulan.

Atas kehamilan tersebut, KP sempat mengajak KS untuk menikah.

Namun ajakan itu justru ditolak oleh KS dengan alasan takut kepada orangtuanya.

Akhirnya kedua sejoli itu memutuskan untuk menggugurkan buah cinta mereka dengan membeli pil penggugur kandungan di sebuah apotek, wilayah kota Singaraja pada Sabtu (26/5/2018) lalu.

Usai membeli obat tanpa resep dokter, KP pun kembali mengantarkan KS ke kosannya di Banjar Dinas Kuta Banding, Desa/Kecamatan Kubutambahan dan kemudian pamit untuk pulang ke rumahnya.

KP kemudian kembali pada Minggu (27/5/2018) pagi dan mendapati sang kekasihnya sudah tak bernyawa.

AKP Mustiada menjelaskan, meski telah mendapatkan pengakuan tersebut, pihaknya belum dapat menetapkan KP sebagai tersangka atas kasus kematian KS.

"Status KP saat ini masih sebagai saksi. Kami harus menunggu hasil tes DNA dan hasil toksikologi terlebih dahulu untuk kemudian melakukan gelar perkara. Jika gelar perkara sudah dilakukan, baru lah terlihat apakah akan ada tersangka atau tidak atas kematian wanita tersebut," tutup AKP Mustiada.

Ini Jenis Obat Penggugur Kandungan yang Diminum Siswi SMK Buleleng

Kematian seorang remaja asal Desa Musi, Kecamatan Gerokgak, Buleleng, KS (20) dipastikan akibat menenggak obat penggugur kandungan (misoprosol).

Misoprosol sendiri merupakan obat keras golongan K yang memiliki efek samping terhadap rahim wanita ibu hamil.

Namun, menurut hasil forensik RSUP Sanglah, organ rahim KS yang tengah berbuah janin cukup umur tersebut diketahui tidak pecah.

Padahal, jika menilik dari kajian farmasi mengenai efek samping penggunaan obat golongan teratogenik kategori K ini, bisa menimbulkan pecah rahim atau ruptura uteri.

Hal ini diungkapkan Ketua Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) Bali, dr Doster Mahayasa.

Menurutnya, penggunaan obat dengan lambang 'K Merah' ini mulanya hanya dipakai untuk mengobati sakit maag.

Kemudian diketahui bahwa ternyata obat ini juga bisa menimbulkan kontraksi rahim pada wanita hamil.

Oleh karena itu, obat tersebut dipakai untuk menginduksi persalinan dengan pengawasan ketat di rumah sakit.

"Efek samping yang ditimbulkan dari obat itu adalah kontraksi rahim berlebih (hipertonus) yang bisa menimbulkan ruptura uteri (rahim pecah). Kalau rahimnya pecah, memang bisa menimbulkan kematian. Selain itu, efek samping yang lain adalah diare,” ungkapnya saat dikonfirmasi Tribun Bali, Sabtu (2/6/2018) kemarin.

Dalam mengakses obat ini, kata Doster, memang harusnya menggunakan resep dokter karena tergolong obat keras.

Resiko yang muncul jika digunakan tanpa sepengetahuan dokter adalah persoalan lain.

"Kenyataannya, orang bisa mendapatkan secara bebas tanpa resep. Bahkan, kabarnya obat seperti itu bisa didapat secara online,” tukasnya.

Seperti diketahui, kasus kematian remaja Bali ini juga masih dalam penanganan pihak kepolisian.

Hingga saat ini, pengusutan kasus masih menunggu hasil uji toksikologi dan tes DNA dari tim forensik.

Kepala Forensik RS Sanglah, dr. Dudut Rustyadi saat dikonfirmasi kembali menegaskan, tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam hasil otopsi yang dilakukan pihaknya.

“Rahimnya tidak ada yang pecah atau luka. Tidak ada tanda-tanda kekerasan,” tegasnya saat dikonfirmasi Tribun Bali, Sabtu (2/6/2018) kemarin.

Dudut menambahkan, pihaknya juga telah mengambil sampel tes DNA untuk dapat mengetahui ayah dari bayi berkelamin laki-laki yang berada di dalam kandungan korban.

"Sampel untuk tes DNA yang kami ambil adalah rambut korban. Kami sudah ambil, dan tinggal menunggu instruksi kepolisian saja," tuturnya singkat.

Siswi SMK di Buleleng Ditemukan Sang Pacar Tewas di Kamar Kos

KS (20), ditemukan tewas di kamar kosnya di Banjar Kuta Banding, Desa/Kecamatan Kubutambahan, Buleleng, Bali, Minggu (27/5/2018).

Remaja yang baru saja lulus dari sebuah sekolah SMK di Buleleng ini diduga meregang nyawa setelah meminum pil penggugur kandungan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Tribun Bali, KS nekat melakukan perbuatan tersebut lantaran malu dan takut orangtuanya tahu bahwa ia sedang hamil di luar nikah.

KS ditemukan dalam keadaan tak bernyawa oleh kekasihnya, KP (23) sekira pukul 09.00 Wita.

"Pacarnya (KP) sudah kami mintai keterangan. Namun hanya sebatas pemeriksaan awal, belum mendalam. Kami masih menunggu hasil autopsi dulu untuk proses lebih lanjut," ujar Kapolsek Kubutambahan, AKP Made Mustiada.

Seusai pengumuman kelulusan, KS sempat pulang ke kampung halamannya di Kecamatan Gerokgak. Namun Sabtu (26/5), ia pamit kepada orangtuanya.

KS mengaku ingin pergi ke Singaraja dengan alasan  untuk mengikuti acara makan-makan dalam rangka perpisahan bersama dengan teman sekolahnya.

Namun kemarin, KS justru ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di atas tempat tidurnya, dengan posisi badan menengadah, kepala menghadap ke arah timur dan kaki ke arah  barat. 

Di dalam kamarnya pula, polisi menemukan barang bukti sebuah pil penggugur kandungan serta gumpalan darah di atas seprai serta di pembalut yang ia kenakan.

Kapolsek Kubutambahan, AKP Made Mustiada mengaku belum mengetahui secara pasti penyebab dari tewasnya KS.

Sebab hal tersebut dapat diketahui setelah KS menjalani pemeriksaan dalam (autopsi).

Namun AKP Mustiada tidak menampik jika pihaknya menduga, KS tewas akibat meminum obat pengugur kandungan.

"Ya kami menemukan obat pengugur kandungan di dalam kamarnya. Sehingga kami menduga yang bersangkutan tewas setelah meminum obat tersebut. Ini masih dugaan sementara ya. Anggota masih melakukan penyelidikan lebih dalam," jelasnya saat dikonfirmasi melalui saluran telepon seluler. (*)

Penulis: Ratu Ayu Astri Desiani
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help