Hinaan Fadli Zon pada Kiai Yahya Cholil Dianggap Keterlaluan, Nuruzzaman Pilih Keluar dari Gerindra

Menurut Nuruzzaman, ada fakta yang dibelokkan menjadi hal politis terkait kehadiran Yahya dan dihubungkan kepada isu ganti Presiden.

Hinaan Fadli Zon pada Kiai Yahya Cholil Dianggap Keterlaluan, Nuruzzaman Pilih Keluar dari Gerindra
Istimewa/Kolase Tribun Bali
Fadli Zon dan Muhammad Nuruzzaman 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Wakil Sekjen Partai Gerindra Muhammad Nuruzzaman memutuskan hengkang dari Partai Gerindra karena tak terima kiainya, Katib Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Yahya Cholil Staquf, dihina saat menjadi pembicara di Israel.

Nuruzzaman merasa Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon telah menghina melalui cuitannya di twitter ihwal kehadiran Yahya sebagai pembicara di forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) terkait konflik Israel-Palestina.

"Ya ini sebagai bentuk respons santri kepada kiainya sebenarnya. Jadi ini santri NU yang merespons ketika ada orang yang menyerang kiainya," ucap Nuruzzaman saat dihubungi, Rabu (13/6/2018).

Baca : Klarifikasi Soal Pernyataan 'Jalan Tol Milik Sandiaga Uno', Sandiaga: Itu Milik Negara
 

Ia menambahkan, kemarahannya memuncak karena hinaan Fadli kepada Yahya terkait acara di Israel.

Menurut Nuruzzaman, ada fakta yang dibelokkan menjadi hal politis terkait kehadiran Yahya dan dihubungkan kepada isu ganti Presiden.

"Bagi santri, penghinaan pada kiai adalah tentang harga diri dan marwah, sesuatu yang Pak Prabowo (Subianto) tidak pernah bisa paham karena Bapak lebih mementingkan hal politis saja," lanjut Nuruzzaman.

Sebenarnya, ada masalah lain yang menjadi pertimbangan Nuruzzaman keluar dari Gerindra, yakni ketika pertarungan di Pilkada DKI.

Baca: Kisah Istri Cantik Kim Jong Un yang Penuh Misteri, Intelejen Korsel Ungkap Asal Usul Ri Sol-ju
 

Ia menilai, Gerindra berkontribusi dalam memproduksi isu SARA sepanjang Pilkada Jakarta berlangsung.

Masalah lain, sikap Gerindra yang menolak Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang Ormas untuk disahkan menjadi undang-undang.

Ia mengatakan, sebagai kader NU, sudah semestinya ia mendukung Perppu tersebut namun ternyata bertentangan dengan sikap partai.

"Oleh sebab itu, saya sudah berfikir untuk mundur dari Gerindra pada Desember 2017 lalu karena kontibusi dan ketulusan saya berjuang bersama tidak pernah terakomodir. Sehingga, tinggal mencari momen yang tepat yang sesuai dengan premis awal saya di atas," ujar dia.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Fadli Zon Hina Yahya Cholil, Nuruzzaman Hengkang dari Gerindra", 

Editor: Ady Sucipto
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help