Puisi ‘Antara Kita’ akan Dibedah di Bentara Budaya Bali Sabtu Ini

Pustaka Bentara, Sabtu (23/6/2018) membedah buku kumpulan puisi "Antara Kita" karya Ketut Syahruwardi Abbas.

Puisi ‘Antara Kita’ akan Dibedah di Bentara Budaya Bali Sabtu Ini

TRIBUN-BALI.COM - Pustaka Bentara, Sabtu (23/6/2018) membedah buku kumpulan puisi "Antara Kita" karya Ketut Syahruwardi Abbas.

Sebelumnya, kumpulan 72 puisi karya penyair yang dilahirkan di Desa Pegayaman, Buleleng, itu telah pula dikuliti di dua tempat pada hari yang sama –26 Mei-- di Singaraja, yakni di markas Dermaga Seni Buleleng (DSB) yang digagas Gede Artawan, kemudian di Rumah Belajar Mahima yang dikomandani suami-istri Made Adnyana Ole dan Sonia Piscayanti.

"Terus terang saya sangat terharu atas antusiasme teman-teman pecinta sastra di Buleleng. Gairah dan kecintaan mereka sangat besar terhadap pertumbuhan sastra modern di sana. Potensi anak-anak muda di sana juga luar biasa. Kita harapkan tokoh-tokoh sastra seperti Gede Artawan, Made Adnyana Ole, Kadek Sonia Piscayanti, dan dosen-dosen di lingkungan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) bersatu-padu membimbing potensi muda itu," ungkap Ketut Syahruwardi Abbas.

"Saya tidak pernah membayangkan sebelumnya jika pada waktu hampir bersamaan, sore di DSB dan malam di Mahima, terkumpul puluhan orang yang siap membaca serta mendendangkan sajak-sajak yang termuat dalam buku 'Antara Kita'. Mereka gembira menatap puisi, hampir sama seperti kegembiraan mereka menyantap rujak di akhir acara," lanjut penyair yang juga dikenal sebagai wartawan senior yang pernah memimpin berbagai media di Bali dan Jakarta.

Abbas berharap, kegembiraan yang sama juga terjadi di Bentara Budaya Bali (BBB) Sabtu pukul 19.00 WITA.

"Sebab, pada dasarnya, puisi haruslah menyehatkan jiwa dan raga. Ia harus dihadapi dengan perasaan lapang dan gembira. Walaupun, mungkin, ekspresi kegembiraan itu bisa beragam," tutur Abbas.

Lelaki yang pernah bekerja di sebuah perusahaan advertising di Jakarta sebagai Creative Director itu mengatakan, puisi –juga jenis kesenian lain—memberikan ruang yang sangat luas untuk rekreasi jiwa yang penuh warna.

"Maka jika politik dan ekonomi menekan jiwa kita, bukalah buku puisi," tambah Abbas sambil tertawa berderai.

Abbas tergolong penyair senior.

Ia satu angkatan dengan, misalnya, GM Sukawidana, Adi Ryadi, Nyoman Wirata, Raka Kusuma, dan lain-lain, yang sajaknya mulai masuk ruang Budaya Bali Post pada masa yang sama.

Halaman
123
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved