Berita Banyuwangi

Banyuwangi Manfaatkan Sistem Geospasial untuk Pendaftaran Siswa Baru

Selama ini sekolah favorit pasti menjadi incaran banyak siswa, sehingga sekolah favorit akan terus berisi anak-anak pintar

Banyuwangi Manfaatkan Sistem Geospasial untuk Pendaftaran Siswa Baru
haorrahman
Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, pada tahun ajaran baru 2018 ini, mulai diterapkan sistem zonasi online berbasis geospasial pada pelaksanaan PPDB tingkat SMP. 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Banyuwangi menerapkan sistem zonasi online menggunakan koordinat rumah calon siswa berbasis geospasial, pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB).

Ini dilakukan untuk mempertajam dan akurasi sistem zonasi, sesuai Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI nomor 14/2018 tentang PPDB, yang menyebut jarak tempat tinggal ke sekolah menjadi salah satu acuan penerimaan siswa.

Siswa yang tempat tinggalnya lebih dekat dengan sekolah, memiliki peluang lebih besar untuk masuk ke sekolah tersebut.

Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas, mengatakan, pada tahun ajaran baru 2018 ini, mulai diterapkan sistem zonasi online berbasis geospasial pada pelaksanaan PPDB tingkat SMP.

Baca: Ratusan Pejabat Banyuwangi Kompak Laporkan Kekayaan ke KPK

Baca: Cerita Kepanikan Nenek Laba Saat Erupsi Gunung Agung yang Berujung Kecelakaan, Andy: Kami Siap Bantu

Sebelumnya, sistem yang diterapkan baru berbasis kecamatan yang tidak bisa mengukur jarak rumah siswa ke sekolah secara signifikan dan akurat, sehingga ada peluang manipulasi data.

“Selama ini sekolah favorit pasti menjadi incaran banyak siswa, sehingga sekolah favorit akan terus berisi anak-anak pintar dan sekolah pinggiran akan sulit bersaing. Makanya PPDB di Banyuwangi kami buat sistem online, dengan penghitungan jarak berdasar koordinat rumah berbasis geospasial. Dengan sistem ini pengukuran jarak rumah dengan sekolah dilakukan secara real time saat siswa mendaftar,” kata Anas, Rabu (4/7/2018).

Pada PPDB tahun ini, ada dua pertimbangan untuk menentukan lolos tidaknya siswa. Yaitu skor jarak (jarak rumah ke sekolah) dan skor USBN (ujian sekolah berstandar nasional).

Skor jarak lebih besar porsinya ketimbang skor USBN yakni 60 persen berbanding 40 persen. Skor jarak inilah yang akan dihitung oleh sistem saat siswa mendaftar pada sekolah yang dipilih. Maka nilai USBN tinggi belum menjadi jaminan seorang siswa bisa masuk ke sekolah yang dituju.

“Saat mendaftar di website PPDB, siswa cukup memasukkan nomor induk siswa dalam website lalu sistem secara otomatis menghitung jarak rumah siswa tersebut dengan sekolah yang dipilih berdasarkan titik koordinat rumah yang sudah tersimpan di data base. Semakin dekat jarak rumah dengan sekolah, maka skor jarak semakin besar,” terang Anas.

Dengan sistem ini, bisa menjaga proses PPDB SMP di Banyuwangi berlangsung dengan transparan. Apalagi semua prosesnya dilakukan secara online. Siswa juga bisa langsung tahu hasil lolos atau tidaknya saat itu juga.

Halaman
12
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help