Berita Banyuwangi

Ratusan Pejabat Banyuwangi Kompak Laporkan Kekayaan ke KPK

"Saat ini berdasarkan undang-undang, semua pejabat eselon tiga dan dua, wajib melaporkan harta kekayaan pada KPK,"

Ratusan Pejabat Banyuwangi Kompak Laporkan Kekayaan ke KPK
haorrahman
Aparatur Sipil Negara (ASN) Kabupaten Banyuwangi kompak melaporkan harta kekayaan mereka pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (4/7/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, BANYUWANGI - Ratusan pejabat eselon dua dan tiga Aparatur Sipil Negara (ASN), kompak melaporkan harta kekayaan mereka pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Rabu (4/7/2018).

Mulai dari kepala bidang (kabid), kepala bagian (kabag), camat, dan kepala Satuan Kepala Perangkat Daerah (SKPD) melaporkan kekayaan mereka.

Bertempat di kantor Badan Kepegawaian dan Diklat (BKD) terdapat 204 pejabat, dengan rincian 23 kepala SKPD, 25 camat, 9 kabag, dan 147 pejabat eselon 3 non kepala SKPD.

Mereka melaporkan harta kekayaan melalui e-LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara).

"Saat ini berdasarkan undang-undang, semua pejabat eselon tiga dan dua, wajib melaporkan harta kekayaan pada KPK. Baik itu harta benda bergerak maupun tidak bergerak," kata Kepala BKD Banyuwangi, Sih Wahyudi.

Baca: Wajib Tahu Hasilnya, Ini 4 Zat Berbahaya yang Dicurigai BPOM Ada di Jajanan Stan PKB Art Center

Baca: Aman Tidak Jajanan di PKB? Ini Hasil Uji Sampel 16 Makanan yang Dicurigai BPOM

Mekanisme pelaporan harta kekayaan pada KPK saat ini melalui sistem online e-LHKPN.

Selain harta kekayaan juga wajib dilaporkan, gaji, honor, dan tambahan penghasilan pegawai (TPP).

"Semua laporan harus rinci dilampirkan bukti-bukti administrasi. Misalnya rumah atau tanah harus dilampirkan sertifikat. Demikian juga laporan lainnya," kata Sih Wahyudi.

Untuk tahun ini, mekanisme pelaporan berbeda dari tahun sebelumnya. Apabila tahun sebelumnya menggunakan cara manual, kini melalui e-LHKPN.

"Semuanya terhubung langsung ke KPK. Tiap pelapor akan diberikan username dan passoword dari KPK. Setelah itu muncul form-form yang harus diisi," jelas Sih Wahyudi.

Nilai harta kekayaan ini bersifat rahasia. Hanya pelapor dan KPK saja yang tahu. Meski rahasia, para pejabat wajib mengisi sesuai dengan kenyataan.

"Harus diisi seuai dengan kekayaan yang dimiliki. Kalau tidak sesuai resiko tanggung penumpang, karena hanya KPK dan pelapor yang tahu. Saya saja tidak tahu berapa nilai kekayaan masing-masing pejabat," jelasnya.

Pelaporan LHKPN dilakukan pada tiga kali. Pertama saat pertama kali menjabat jabatan baru. Kedua, laporan tahunan yang dilaporkan setiap tahun meliputi penambahan dan pengurangan kekayaan, atau tetap. Ketiga, laporan menjelang pensiun.

Sih Wahyudi menjelaskan, untuk eselon empat, juga wajib melaporkan harta kekayaan. Bedanya, eselon empat mengisi Laporan Harta Kekayaan Aparatur Sipil Negara (LHKASN).

"Tapi bedanya, LHKASN ini hanya diberikan pada bupati," tambah Sih Wahyudi.
(haorrahman/surya)

Editor: Rizki Laelani
Sumber: Surya
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help