Gunung Agung Terkini

Was-was di Dalam Rumah, Warga Kesimpar Lereng Gunung Agung Ramai-ramai Nongkrong Depan Rumah

Seiring erupsi Gunung Agung yang tiap hari terjadi beberapa hari terakhir ini, membuat sebagian warga Kesimpar was-was berada di dalam rumah.

Was-was di Dalam Rumah, Warga Kesimpar Lereng Gunung Agung Ramai-ramai Nongkrong Depan Rumah
Tribun Bali/Busrah Ardans
Ni Nyoman Sumiti dan Ni Wayan Sutami (baju kuning) saat diwawancarai tribun-bali.com Minggu (8/7/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, KARANGASEM - Seiring erupsi Gunung Agung yang tiap hari terjadi beberapa hari terakhir ini, membuat sebagian warga Kesimpar was-was berada di dalam rumah.

Mereka memilih duduk-duduk di luar rumah sambil bercengkrama dibanding di dalam rumah.

Hal itu dilakukan untuk memantau langsung aktivitas gunung Agung yang berada tepat di belakang rumah mereka.

Ni Nyoman Sumiti satu di antaranya, ia memilih duduk dengan kawannya Ni Wayan Sutami di dekat depan rumah.

Sambil menggendong anaknya ia tampak bercerita ria, sesekali menengok jemuran bajunya yang digantung di tepi jalan.

Dusun Kesimpar Desa Besakih yang terletak di sekitar gunung Agung dengan jarak 5 Km dari gunung membuat masyarakat setempat tetap terjaga terhadap situasi gunung yang terpantau fluktuatif.

Menuju ke lokasi tribun-bali.com harus melewati jalan yang mendaki, terjal serta menurun. Belum semua jalan yang beraspal, bebatuan ditumpuk untuk menguatkan jalanan.

Berada pada garis lurus jalan, gunung Agung berdiam. Jalan yang lurus ke atas tepat di mana gunung berada. Jika cuaca cerah gunung terlihat Indah kata ibu-ibu setempat.

Namun sering pula berkabut juga berawan tebal. Sehingga tak tampa Batang tubuhnya.

Dalam wawancara singkat dengan tribun-bali.com siang tadi, ia mengatakan keluarganya kini tengah mengungsi di UPTD Pertanian Rendang namun sesekali dirinya ke rumah untuk bersih-bersih juga memasak.

"Kalau nggak erupsi di sini sama anak, aktivitasnya berkebun. Tapi karena ini erupsi maka pagi ke sini, sore baru balik lagi. Kalau ke sini yah nyapu, masak," kata dia kepada tribun-bali.com, Minggu (8/7/2018).

Sama halnya dengan Sumiti, Sutami juga melakukan hal yang sama. Dia mengaku harus memantau sendiri gunung Agung yang membuatnya takut.

"Ya, ini mantau gunungnya. Ini tiap hari kita lakukan kalau dalam rumah tidak tenang. Paginya kembali ke sini. Kadang cuci, bersih-bersih, masak. Malamnya balik lagi ke pengungsian. Itu dah takut erupsi tu. Suara gemuruhnya terdengar jelas sekali. Kalau ada apa-apa bisa telpon langsung lari," akuinya. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help