Rumahnya Tidak Masuk Zona Perkiraan Bahaya, Ketut Simpen Masih Bertani dan Beternak

Seorang petani lombok dan bunga sekar mitir, Ketut Simpen asal Banjar Kesimpar, Karangasem, memilih tetap bertani

Rumahnya Tidak Masuk Zona Perkiraan Bahaya, Ketut Simpen Masih Bertani dan Beternak
Tribun Bali/Busrah Ardans
Ketut Simpen dan keluarga sedang merawat tanamannya, Minggu (8/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Busrah Hisam Ardans

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Seorang petani lombok dan bunga sekar mitir, Ketut Simpen asal Banjar Kesimpar, Karangasem, memilih tetap bertani dan merawat empat ternak sapinya dari pada mengungsi.

Hal tersebut dilakukan lantaran merasa kasihan dengan tanamannya yang beberapa bulan lagi akan panen.

Saat ditemui di kebunnya, Minggu (8/7/2018) kemarin, ia mengungkapkan, dirinya dan keluarga memilih tetap bertahan karena kondisi gunung yang belum gawat.

"Kasihan sama bibitnya, juga karena gunung belum gawat. Masih amanlah. Kalau gawat baru saya mengungsi," ungkap Simpen.

Jarak rumah Simpen dari Gunung Agung sekitar 8 km.

Ini tidak membuat dia takut dengan kondisi Gunung Agung yang hampir setiap hari mengalami erupsi.

Rumah Simpen memang belum masuk zona perkiraan bahaya, karena menurut PVMBG, zona perkiraan bahaya ada di seluruh area di dalam radius 4 km dari Kawah Puncak Gunung Agung.

Saat ditanya mendengar suara gemuruh dan melihat asap dari atas mulut Gunung Agung, Simpen mengaku tidak takut dan menurutnya tidak apa-apa.

"Iya dengar, saya dengar tapi tidak takut, tidak apa-apa. Rumah saya sekitar 8 km dari gunung. Pernah saya mengungsi dengan keluarga di UPTD Pertanian, Rendang waktu 2017 lalu. Kira-kira sudah 9 bulan lalu," katanya.

Menurut Simpen, tanamannya saat ini sementara dalam proses perawatan, harus selalu diperhatikan tiap hari apalagi kalau ada hujan abu.

"Kalau ada hujan abu itu harus segera disiram, diberi pupuk biar tidak rusak, yang bunga mitir ini sudah 2 bulan, kalau lombok itu baru sebulan, jadi panennya 4 bulan lagi, nanggunglah," pungkasnya. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help