Kebakaran Kapal di Pelabuhan Benoa

Banyak Kapal di Pelabuhan Benoa Yang Terkena Moratorium

Dwi Yanto mengaku, kapasitas di Pelabuhan Benoa bagian barat tidak cukup menampung banyaknya kapal tersebut.

Banyak Kapal di Pelabuhan Benoa Yang Terkena Moratorium
Tribun Bali / I Nyoman Mahayasa
Kebakaran puluhan kapal di Dermaga Barat Pelabuhan Benoa Bali, Senin (9/7/2018) 

TRIBUN-BALI.COM - Ratusan kapal ikan yang berlabuh di Dermaga Barat Pelabuhan Benoa, Denpasar, tidak semuanya dalam kondisi aktif.

Sejumlah kapal dalam kondisi pasif.

"Kita melihat sendiri di lapangan, kapal itu sangat banyak sekali. Dan tidak semua aktif, banyak kapal yang tidak bergerak atau kapal pasif (mati) yang sudah tahunan berlabuh dan tidak ke mana-mana," ujar Kepala Kantor Sahbandar Operasional Pelabuhan (KSOP) Benoa, Dwi Yanto, kemarin, Senin (9/7/2018) 

Kondisi ini menyebabkan Pelabuhan Benoa bagian barat pun penuh.

"Jadi ini kapal-kapal terkena moratorium dengan peraturan perikanan," katanya.

Sesuai SOP, kata dia, idealnya kapal yang berlabuh tidak boleh tender (berjejeran) tiga.

"Kalau kita ngomong kapal kargo saya tidak diperbolehkan untuk tender, karena memang peraturannya tidak boleh. Tapi kapal-kapal ini kan hanya parkir, dan kru kapalnya belum pulang saat mudik lebaran kemarin, makanya belum beroperasi sehingga banyak," katanya.

Dari 40 kapal yang terbakar ini pun, kata dia, yang aktif tidak sampai 10 unit. Ditambahkannya, yang menyebabkan api susah dipadamkan adalah empat kapal aktif yang di dalamnya ada bahan bakar solar maupun oli.

"Yang lain itu kapal-kapal kecil dan mati (kapal pasif) semua," klaimnya.

Dwi Yanto tidak menjelaskan berapa jumlah kapal pasif dan kapal aktif. "Saya belum bisa menjelaskan secara detail nama kapalnya dan berapa jumlahnya, palingan 10-15 kapal aktif, sisanya kapal pasif," ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Hisyam Mudin
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help