20,4 Persen Balita Bangli Masuk Kategori Stunting

Angka gagal tumbuh pada bayi lima tahun (Balita) atau yang kerap disebut stunting di Kabupaten Bangli masih menjadi persoalan

20,4 Persen Balita Bangli Masuk Kategori Stunting
Tribun Bali/M. Fredey Mercury
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bangli, I Nyoman Arsana saat ditemui Selasa (10/7) 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI – Angka gagal tumbuh pada bayi lima tahun (Balita) atau yang kerap disebut stunting di Kabupaten Bangli masih menjadi persoalan yang perlu dituntaskan.

Pasalnya, berdasarkan data pada tahun 2017, angka balita yang masuk kategori stunting di Bangli tercatat sebesar 20,4 persen dari 16 ribu lebih jumlah Balita.

Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Bangli, I Nyoman Arsana saat ditemui Selasa (10/7) membenarkan angka tersebut.

Meski demikian, melihat data tiga tahun belakangan jumlahnya justru mengalami penurunan. Ia memaparkan, berdasarkan data tren masalah gizi, pada tahun 2015, jumlah balita yang terkategori stunting berada di angka 28,6 persen, 2016 yang tergolong stunting sebesar 25,7 persen; dan pada tahun 2017 kembali menurun yakni di angka 20,4 persen.

“Jika dilihat per Kabupaten, dengan jumlah 20,4 persen Kabupaten Bangli berada di urutan ke lima. Dibawah Kabupaten Buleleng (29,0 persen), Jembrana (25,2 persen), Karangasem (23,6 persen), dan Gianyar (22,5 persen),” sebutnya.

Secara umum, jelas Nyoman Arsana, stunting yakni gagal tumbuh utamanya dilihat dari tinggi badan balita bedasarkan usianya. Tinggi badan tersebut mengacu pada standar yang telah ditetapkan oleh organisasi kesehatan dunia (WHO).

Contohnya, berdasarkan standar WHO, panjang balita laki-laki usia 12 bulan (1 tahun) yakni 75,7 sentimeter. Dikatakan normal, bila tinggi/panjang badannya hanya 71,0 sentimeter.

“Baru dikategorikan stunting jika tinggi/panjang badannya hanya 68,6 sentimeter, atau kurang dari jumlah tersebut,” jelasnya.

Pihaknya juga mengatakan, terdapat dua faktor penyebab utama stunting. petama intik, yakni gizi yang diberikan orang tua pada anak. kedua penyakit infeksi, seperti cacingan, diare, hingga penyakit bawaan seperti jantung, maupun pneumonia (inveksi paru-paru).

Secara teori, kata Nyoman Adnyana dengan tumbuh (kerdil) tentunya berpengaruh terhadap seluruh organ tubuh.

Halaman
12
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help