Home »

Bali

Leher Biru Dewa Siwa, Ini Kisahnya Menurut Lontar Tantu Pagelaran

Dalam Lontar Tantu Pagelaran diceritakan tentang pemotongan puncak Gunung Himawan atau Himalaya

Leher Biru Dewa Siwa, Ini Kisahnya Menurut Lontar Tantu Pagelaran
Net
Ilustrasi Patung Dewa Siwa 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam Lontar Tantu Pagelaran yang ditulis sekitar akhir abad ke-15 atau awal abad 16, diceritakan tentang pemotongan puncak Gunung Himawan atau Himalaya yang dibawa ke Pulau Jawa.

"Pada lontar Tantu Pagelaran juga dikisahkan bahwa prosesi mencari tirta amerta tidak lagi di laut tapi juga di darat," kata Staf Pusat Kajian Lontar Unud, Putu Eka Guna Yasa.

Lontar ini berbahasa Bali tengahan dan merupakan teks yang diciptakan di sastra-sastra mandala atau perguruan-perguruan sastra.

Diceritakan, ketika itu Pulau Jawa tidak stabil atau enggang-enggung.

Bhatara Guru atau Bhatara Siwa kemudian mengutus para dewa memotong puncak Gunung Himawan atau Himalaya di India dan dipindah ke Jawa.

Sampai di Gunung Himalaya, ada proses pemutaran gunung dan saat pemutaran itu para dewa mengalami kehausan.

Ketika itu muncullah dari gunung sumber air yang bernama Kalkuta.

"Kalkuta itu diminum dan para dewa keracunan sehingga tidak bisa melakukan prosesi pemenggalan Gunung Himawan," imbuhnya.

Karena lama tak kembali, maka Bhatara Guru menyusul ke sana.

Sesampainya di sana, dilihatlah para dewa meninggal keracunan.

Bhatara Guru kemudian meminum air itu dan menyebabkan tengorokan atau leher beliau kebiruan, sehingga beliau disebut Nilakanta atau leher biru.

"Dengan kemampuannya, Bhatara Guru mengubah air Kalkuta menjadi tirta amerta siwamba yang membuat para dewa bisa hidup kembali," katanya.

Sehingga potongan Gunung Himalaya bisa dibawa ke Pulau Jawa. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help