10 Tahun Terakhir UNESCO Kehilangan Banyak Sumber Daya dan Finansial Karena Alasan Ini

UNESCO sudah kehilangan banyak sumber daya dan finansialnya sejak sepuluh tahun terakhir

10 Tahun Terakhir UNESCO Kehilangan Banyak Sumber Daya dan Finansial Karena Alasan Ini
Tribun Bali/Busrah Ardans
Hilmar Farid, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, saat diwawancarai tribun-bali.com, Jumat (13/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Busrah HIsam Ardans

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ada beberapa hal menarik ketika diskusi bersama Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid yang diselenggarakan Forum Diskusi Peduli Bali (FDPB) di Warung Kubu Kopi, Jumat (13/7/2018) malam kemarin memuat fakta menarik.

Diskusi yang berlangsung kira-kira dua jam itu dihadiri puluhan peserta dari berbagai latar belakang.

Fakta menarik itu kata Farid adalah lembaga internasional yang memiliki peran dalam seni dan kebudayaan, UNESCO, sudah kehilangan banyak sumber daya dan finansialnya.

"UNESCO kini kehilangan sumber daya serta finansial yang dulu dimiliki dalam memainkan perannya yakni pelestarian kebudayaan secara efektif," kata Farid.

Terutama saat Amerika menarik dukungannya karena UNESCO mengakui keberadaan Palestina, dan membuat Israel sebagai persoalan besar.

Atas dasar itu AS menarik dukungan serta finansialnya.

"Sekarang regulator pun tidak, apalagi di eksekutif. Kalau dulu masih ada proyek UNESCO di mana-mana. Tapi sekarang proyek UNESCO sudah bersandar pada sumbangan dari masing-masing negara, ini terjadi sekitar 10 tahun terakhir," jelas dia lagi.

Ditambahkan Farid, pemerintah Indonesia kini sedang merumuskan kembali hubungan dengan UNESCO.

Di satu pihak UNESCO merupakan satu lembaga otoritatif tingkat Internasional, tapi di sisi lain muncul kelemahan sehingga ada inisiatif baru.

"Untuk kepentingan nasional kita jauh lebih baik. Misalkan mencari hubungan regional, global, di bidang kebudayaan yang sifatnya baru. Bukan saja semata dalam pelestarian seni dan cagar budaya yang merupakan salah satu kegiatan UNESCO cukup lama," ungkapnya.

Adapun hubungan regional dan global yang dimaksud Farid semisal, ekonomi kreatif, pengelolaan kekayaan intelektual, industri berbasis budaya, yang menurutnya adalah ekonomi di masa depan. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved