Antida Music Bawa Group Musik Gayagayo ke Rainforest World Music Festival 2018

Antida Music Productions membawa Group Musik GayaGayo yang berasal dari Gayo, Aceh, dan menarikan Tari Saman

Antida Music Bawa Group Musik Gayagayo ke Rainforest World Music Festival 2018
Istimewa
Group Musik GayaGayo yang berasal dari Gayo, Aceh di Rainforest World Music Festival 2018 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam ajang Rainforest World Music Festival (RWMF) 2018 yang diselenggarakan di Serawak Cultural Village (SCV), Kuching, Serawak, Malaysia, Antida Music Productions, sebagai promoter, membawa Group Musik GayaGayo yang berasal dari Gayo, Aceh, dan menarikan Tari Saman.

RWMF ini adalah salah satu festival terbesar di dunia yang berhasil mendatangkan total 30.000 orang untuk menikmati festival ini.

“Kami mengajukan beberapa nama seniman Indonesia ke RWMF, mengirimkan beberapa video pementasan mereka untuk kemudian dikurasi dan dipilih oleh kurator RWMF. Dari beberapa seniman yang kami ajukan, Pihak RWMF memilih group GayaGayo untuk didatangkan ke RWMF, dan mengisi dua panggung utama beserta workshop pada tanggal 13–15 Juli 2018 ini," kata Anom Darsana, pemilik Antida Music Productions.

Workshop GayaGayo telah berlangsung Jumat (13/7/2018) kemarin.

Di dalam mini session ini, GayaGayo berbagi cerita mengenai latar belakang mereka sebelum akhirnya melatih peserta workshop yang datang pada acara ini.

Workshop berlangsung sekitar lima puluh menit.

Peserta begitu antusias untuk mencoba gerakan Saman ini.

Beberapa peserta workshop tampak semangat dan tertawa apabila mereka mencoba gerakan ini.

Gerakan dasar yang diajarkan pada workshop ini menjalin keakraban antar peserta.

“GayaGayo menampilkan Tari Saman yang sebenarnya, yang original, bukan yang kreasi. Original Tari Saman ini biasanya hanya boleh dipentaskan oleh laki-laki. Kami mengangkat keaslian itu. Memang dalam pandangan umum, kita sering melihat banyak perempuan yang menarikan tari Saman, tetapi sebenarnya itu bukanlah Tari Saman. Itu lebih cenderung ke tari kreasi. Ratoh Douk namanya, yang artinya adalah Putri Duduk," ujar Trisha Rizky Rosario, pimpinan group GayaGayo.

Peserta workshop beragam, mereka berasal dari belahan negara yang berbondong-bondong datang untuk menikmati festival ini.

“Saya mengangkat Tari Saman dalam festival musik dunia seperti RWMF ini, karena selain dari sisi gerak (tari), saya juga melihat Tari Saman merupakan musik itu sendiri. Sebab di dalamnya ada perpaduan antara lantunan elegi yang dinyanyikan, dan juga gerakan-gerakan tersebut menghasilkan bunyi, dan bunyi merupakan esensi dari musik itu sendiri, atau lebih kita kenal sebagai body percussion," kata Anom Darsana.

Tahun depan dan tahun-tahun berikutnya, tidak menutup kemungkinan satu demi satu kebudayaan Tanah Air Indonesia akan mengisi ruang-ruang kreasi pada festival-festival dunia. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help