Antisipasi Kebutuhan BBM, TBBM Ampenan Mataram Siapkan Pembangunan CBM Baru

PT. Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V mengadakan media gathering di Lombok

Antisipasi Kebutuhan BBM, TBBM Ampenan Mataram Siapkan Pembangunan CBM Baru
Tribun Bali/Putu Dewi Adi Damayanthi
(Dari kiri) Aries Bhuana, Eddie Mangun, La Imbo, di Terminal BBM Ampenan, di Jalan Yos Sudarso, Ampenan, Mataram, NTB. 

TRIBUN-BALI.COM, MATARAM - PT. Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V mengadakan media gathering di Lombok, NTB, tanggal 13-15 Juli 2018.

Acara gathering media ini dihadiri kurang lebih 25 peserta yang terdiri dari wartawan media cetak, online, maupun televisi.

Hari pertama media gathering, Jumat (13/7/2018) diisi dengan mengunjungi Terminal Bahan Bakar Minyak (TBBM) Ampenan, di Jalan Yos Sudarso, Ampenan, Mataram, NTB.

Para peserta disambut hangat oleh Operasional Head Terminal BBM Ampenan, La Imbo, Communication & Relations Officer Pertamina MOR V, Aries Bhuana, dan Communication & Relations Officer Pertamina MOR V Jawa Timur Nusa Tenggara, Eddie Mangun.

Saat kunjungan berlangsung, La Imbo menjelaskan tentang sejarah hingga perkembangan dari TBBM Ampenan.

La Imbo mengatakan, selama ini kebutuhan BBM yang cukup besar hanya dipasok dari Conventional Buoy Mooring (CBM) dengan kapasitas 6500 DWT.

"Kedatangan tanker dalam satu bulan cukup padat, 20-25 kapal, tentu berisiko tinggi jika terjadi gelombang dan ombak besar, baik di terminal back loading maupun di lokasi," tuturnya.

Ia berujar kondisi tersebut dapat menyebabkan kerawanan stok BBM, sehingga bisa berdampak terhadap aktivitas perekonomian di NTB.

Pria berkulit sawo matang itu menuturkan, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan pasar di NTB yang semakin meningkat, TBBM akan mengembangkan Conventional Buoy Mooring (CBM) menjadi 17500 DWT.

"Untuk rencana pengembangan ke depan, untuk mengantisipasi dan memenuhi kebutuhan pasar, TBBM memiliki rencana pengembangan sarana antara lain pembangunan CBM baru, dari 6500 menjadi 17500 DWT," ucapnya.

Ia menjelaskan, untuk saat ini rencana pengembangan tersebut masih dalam tahap survei, rencananya akan dilakukan pada 2019 mendatang.

Diharapkan dari rencana tersebut dapat mengurangi kedatangan kapal yang akan melakukan suplai.

Selain itu, hal tersebut juga diharapkan menjadi TBBM back loading untuk wilayah Badas dan Bima, sehingga bisa menjaga stabilitas stok di NTB.(*)

Penulis: Putu Dewi Adi Damayanthi
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help