Hanya untuk Berselfi, Wisatawan Membandel Terobos Masuk Waterblow Nusa Dua saat Embusan Ombak Besar

Embusan ombak besar menarik minat puluhan wisatawan untuk menerobos masuk area Waterblow Nusa Dua

Hanya untuk Berselfi, Wisatawan Membandel Terobos Masuk Waterblow Nusa Dua saat Embusan Ombak Besar
Tribun Bali/Rino Gale
Terlihat puluhan wisatawan memaksa masuk untuk mengambil momen berfoto ria dengan jarak yang sangat dekat dari embusan ombak, di area Waterblow, Kamis (19/7/2018). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Rino Gale

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Embusan ombak besar menarik puluhan wisatawan untuk menerobos masuk area Waterblow Nusa Dua yang sengaja ditutup, hanya untuk berselfi, Kamis (19/7/2018).

Beberapa wisatawan pun sempat adu jawab dengan petugas, dikarenakan larangan jarak untuk mengambil foto terlalu dekat dan berbahaya.

Terlihat pagar dek pantauan yang terletak di dekat karang ikut hancur dikarenakan embusan ombak yang kencang.

Salah satu petugas, I Ketut Yudana terlihat meniup peluit tanda larangan dan mengimbau para wisatawan agar tidak terlalu dekat dengan ombak.

Namun beberapa wisatawan menghiraukan larangan tersebut.

"Sudah dari tadi saya larang, karena area ini berbahaya. Sebalah sini dilarang, eh tahu-tahunya mereka geser ke sebelah sana. Pagar dek pemantauan aja hancur kok, apalagi nyambar ke orang. Tapi sekarang sudah amanm" ujarnya sambil ketawa.

Kepala Divisi Operasi, Made Pariwijaya menambahkan, sudah ada tiga CCTV yang memantau dan ada personel yang akan terus menjaga.

Selain tiga CCTV tersebut, nantinya akan ada tanda bunyi melalui speaker atau sirine jika terjadi ombak besar semacam ini.

"Ya nanti akan ada bunyi dari sirine untuk imbaun kepada pengunjung agar tidak turun ke batu karang, serta dibantu juga dengan penjagaan personel, guna mencegah para pengunjung masuk," ujarnya.

Ia menambahkan, setelah bulan Oktober ini, akan ada proses pembaruan fisik di area Waterblow.

Salah satunya dibuat dek pantau dekat pintu masuk.

Tujuan tersebut membatasi pengunjung agar tidak terlalu dekat dengan karang ketika ada gelombang tinggi.

"Ini masih proses pembuatan, dek pantau dibuat agak tinggi, yang nantinya pengunjung bisa lihat dari dek pantau ini. Secara tidak langsung pengunjung dibatasi agar tidak terlalu dekat," ujarnya.(*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved