Pesta Kesenian Bali 2018

Perihal Joged Porno dan Selentingan yang Membuat Telinga Panas

Menonton penampilan Teater Kalangan, Kamis (19/7/2018) malam dengan garapan berjudul "Joged Adar, Kekasihmu dan Kesibukan Melupakannya,"

Perihal Joged Porno dan Selentingan yang Membuat Telinga Panas
Tribun Bali/I Putu Supartika
Penampilan Teater Kalangan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Menonton penampilan Teater Kalangan, Kamis (19/7/2018) malam dengan garapan berjudul "Joged Adar, Kekasihmu dan Kesibukan Melupakannya," di Wantilan Art Center, Denpasar, kita tidak hanya disuguhi tentang bagaimana joged jaruh (porno) merusak budaya bali, akan tetapi ada efek dibelakang yang mengiringi.

Dalam salah satu dialog, bagaimana diceritakan bahwa penari joged erotis tersebut terpaksa menari joged erotis dikarenakan faktor ekonomi.

"Saya lihat, ada penari joged porno yang terpaksa menari seperti itu karena membiayai hidup enam orang adiknya. Sementara mereka tidak memiliki orang tua," kata salah seorang tokoh dalam teater tersebut yang diperankan oleh Agus Wiratama.

Bahkan di dalam pementasan tersebut, banyak terselip selentingan-selentingan yang jika dipahami lebih mendalam akan membuat telinga orang Bali panas.

Misalkan saja, dalam pementasan tersebut juga ditampilkan joged yang pementasannya dilakukan dalam areal pura.

Juga ditampilkan sesi wawancara dalam sebuah televisi, dimana seorang pemain joged erotis menjadi narasumber, namun dalam setiap jawabannya dia selalu mengatakan bahwa joged porno atau erotis merusak budaya Bali sementara dia tetap menari sebagai pemain joged erotis.

Juga tentang berkembangnya dangdut koplo dengan goyangan hot ditampilkan di atas panggung dan tidak ada yang mengatakan bahwa itu merusak kebudayaan.

Sindiran yang paling menohok juga dihadirkan dalam dialog yang intinya bahwa pementasan joged porno tetap ada dan diakalai.

"Semua orang yang manonton sepakat, tidak membuat video, tidak memfoto, tidak mengunggah, dipentaskan di tempat terbuka dan yang ditampilkan adalah joged porno," kata tokoh lain yang diperankan Julio Saputra.

Sementara itu, sutradara pementasan, I Wayan Sumahardika mengatakan sejak dulu dari hasil wawancaranya di berbagai tempat, joged ini memang biasa pentas dalam rangka upacara agama, di pura-pura, balai banjar, rumah warga, hotel, bahkan lapangan sepak bola tanpa mengurangi esensi joged sebagai tari pergaulan.

"Ketika waktunya penari sembahyang, ia sembahyang dengan khusyuk. Ketika menari porno ia lakukan pula dengan kualitas dan kapasitasnya sebagai penari. Pun ketika dilarang joged porno, ya nurut-nurut saja," kata Sumahardika.

Ia juga mengungkapkan bagaimana wacana-wacana media dan pemerintah yang terus mengumandangkan ajeg Bali sebagai sesuatu yang beku tanpa menemukan konteks yang jelas.

"Inilah yang pada akhirnya membuat seluruh persoalan tentang tradisi budaya diobjektifikasi sedemikian rupa dengan nilai-nilai ajeg Bali yang sayangnya bermuara hanya untuk kepentingan pariswisata," imbuhnya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved