Ketut Nara Gantungkan Biaya Kuliah Anak dari Hasil Cengkih

Waktu menunjukkan pukul 09.00 Wita saat Ketut Nara bergegas menuju kebun cengkih di belakang rumahnya Dusun Witajati, Desa Selat,

Ketut Nara Gantungkan Biaya Kuliah Anak dari Hasil Cengkih
Tribun Bali/Miftachul Huda
Seorang pekerja saat memetik cengkih di Dusun Witajati, Desa Selat, Kecamatan Sukasada, Buleleng. 

TRIBUN-BALI.COM, BULELENG – Waktu menunjukkan pukul 09.00 Wita saat Ketut Nara bergegas menuju kebun cengkih di belakang rumahnya Dusun Witajati, Desa Selat, Sukasada, Buleleng, Bali.

Di kebun seluas 75 are ini dia menggantunkan masa depan anaknya dari hasil panen cengkih setiap tahun. 

Panen cengkih tahun ini jatuh pada bulan Juli hingga dua bulan kedepan.

“Untuk tahun ini memasuki masa panen raya, panen raya itu jatuh dua tahun sekali,” terang Ketut Nara ditemui di perkebunan miliknya".

Hasil dari cengkih inipula yang menopang kehidupan ekonomi dan warga Selat lainnya.

“Kalau gak ada cengkih, kami makan apa, semua dari sini (cengkih) termasuk biaya kuliah anak saya juga tergantung hasil penen ini,” imbuhnya.

Saat ini putrinya sudah masuk ke sebuah kampus kesehatan di Denpasar.

“Dari hasil inipula untuk kuliah anak,” imbuh suami darti Komang Artini. Panen tahun ini dia pridiksi lebih besar, hal ini bisa dilihat dari bunga cengkih miliknya yang lebih banyak dibanding sebelumnya. “Kalau tahun lalu hanya dapat 850 kilogram, untuk tahun ini diperkirakan ada1,3 ton,” terang pria yang didaulat sebagai pimpinan Kelompok Tani Sari Luwih Merta Jati. 

Untuk harga1 kg saat ini Rp 95 ribu.

“Ya lumayan, biasanya pas anak lagi butuh uang kuliah, saya ambilkan dari hasil cengkih ini,” jelasnya.

Perbekel Desa Selat Made Artawan mengatakan jumlah penduduk di Desa Selat mencapai 8.335 jiwa. “Sekitar 80 persen warga kami petani cengkih," ujarnya. (*)

Penulis: Miftachul Huda
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help