Home »

Bali

Dharma Wacana

Pelawatan Bhatara dalam Bentuk Hewan

Ajaran agama Hindu di Bali tidak pernah terlepas dari konsep Bhairawa Tantra.

Pelawatan Bhatara dalam Bentuk Hewan
Tribun Bali/ I Putu Darmendra
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

TRIBUN-BALI.COM, -- Ajaran agama Hindu di Bali tidak pernah terlepas dari konsep Bhairawa Tantra.

Bhairawa Tantra itu merupakan ajaran yang berlindung pada energi maha dahsyat atau dalam agama kita disebut wisesa.

Karena itu, kehadiran Tuhan dalam pandangan Hindu di Bali, beliau tidak hanya hadir dalam kekuatan santhi dalam bentuk arca para dewata, tetapi juga menggunakan simbol hewan yang memiliki kekuatan fisik lebih besar dari manusia.

Pemujaan Tuhan dalam manifestasi-Nya dalam bentuk hewan juga dikuatkan lontar Barong Swari. Di sana dikatakan, ketika Tri Murti (Siwa, Brahma dan Wisnu) memaksimalkan energi alam semesta untuk menjaga para pemuja-Nya.

Di sana disebutkan bahwa Bhatara Siwa nyutirupa menjadi Barongket, Bhatara Brahma menjadi Barong Macan, dan Bhatara Wisnu menjadi Barong Bangkal.

Jadi, sesungguhnya memuja Barongket, Barong Macan dan Barong Bangkal sama dengan memuja Sang Hyang Tri Murti dalam aspek kekuatan maha dahsyat.

Hal ini diberikan ruang oleh kearifan lokal kita di Bali, terutama ketika berbicara mengenai aspek srada (keyakinan), filosofi dan aspek ideologi, dimana sebenarnya segala isi alam semesta ini diresapi oleh kekuatan Tuhan.

Sekarang tugas kita adalah memfungsikan kekuatan Tuhan itu untuk proteks (pelindung), pemberi keselamatan, kesuburan dan kemakmuran manusia. Sebab dalam ajaran apapun, Tuhan selalu hadir berdasarkan kebutuhan manusia.

Ketika dilandasi unsur tantra, tentu akan tak bisa lepas dari totemisme (keyakinan tentang adanya hewan keramat).

Hewan yang dikeramatkan dalam hal ini, bukan hewan sembarang.  Namun hanya yang memiliki kekuatan luar biasa dan berpengaruh bagi kehidupan manusia.

Tentu, orang yang tidak memahami hal ini akan mengklaim umat Hindu memuja binatang. Namun harus dipahami, yang dipuja bukanlah bentuknya, namun kekuatan Tuhan yang bersemayam di dalamnya.

Kekuatan-kekuatan Tuhan dalam personifikasi hewan ini tidak liar. Sebab sebelum dipuja, personifikasi tersebut terlebih dahulu disucikan dan distanakan di pura yang kita yakini sebagai pusat kesucian.

Maka dengan demikian, aspek santha dan aspek proteks kehidupan manusia telah terkandung di dalam kekuatan itu. Bagaimanapun, manusia tidak pernah luput dari rasa takut, misalnya ketakutan akan bencana.

Dalam mitologi Hindu di Bali, setiap sasih keenam dan sasih kesanga diyakini sebagai sasih buruk, dimana setiap saat bencana akan melanda manusia.

Sebagai upaya menghindari bencana itu, maka manifestasi Ida Bhatara dalam bentuk hewan inilah dimohonkan sebagai pelindung. Dan, ketika alam sudah damai, beliau disineb kembali di pura. (weg)

Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help