Budaya

Komunitas Segara Lor Angkat Akulturasi Cina dan Bali dalam Galungan Cina

Mereka mengangkat tema Galungan Cina yang mengangkat akulturasi antara Bali dengan Tionghoa

Komunitas Segara Lor Angkat Akulturasi Cina dan Bali dalam Galungan Cina
Tribun Bali / I Nyoman Mahayasa
Sejumlah seniman yang tergabung dalam komunitas Segara Lor menampilkan berbagai karya visual di museum Neka Ubud, Rabu (25/7) dengan tema Galungan Cina. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Ada 19 orang perupa yang menamakan diri Komunitas Segara Lor berpameran di Museum Neka, Jalan Raya Sanggingan, Ubud, Gianyar, Rabu (25/7/2018).

Mereka mengangkat tema Galungan Cina yang mengangkat akulturasi antara Bali dengan Tionghoa.

Baca: Waspada, Puncak Gelombang Laut Saat Gerhana Bulan di Bali dan Wilayah Lain pada 27 Juli 2018

Baca: Di Sanur Kauh Bermukim 672 WNA, Begini Hasil Sidak Hari Ini

Baca: Pasang Air Laut di Pantai Kuta Bikin Pedagang Sempat Berhenti Berjualan

Baca: Bali International Choir Festival Diramaikan 146 Grup

Karya yang dipamerkan berupa lukisan, patung, hingga instalasi yang menggambarkan akulturasi budaya Bali dan Cina.

Kurator pameran, I Made Susanta Dwitanaya, tema Galungan Cina ini berangkat dari akulturasi hubungan kebudayaan Bali dengan Tionghoa yang telah terjadi sejak berabad-berabat lalu.

"Jejak akulturasi ini kita bisa lihat lewat artefak, sejarah, maupun tradisi seperti ada uang kepeng, kuliner," kata Susanta.

Lewat bahasa seni inilah perupa menyajikan karya yang melihat atau merepresentasikan akulturasi tersebut.

Dari pameran tersebut tersirat pesan bagaimana orang Bali sudah merawat perbedaan sejak dulu dan sangat terbuka dengan pengaruh luar dan bisa hidup berdampingan.

"Sebegai bangsa yang Berbhineka perlu membangkitkan spirit kebersamaan tanpa memandang sekat," imbuh Susanta.

Pameran ini diikuti oleh 18 alumni Seni Rupa dari Universitas Pendidikan Ganesha dan seorang perwakilan seniman Tionghoa yang tinggal di Banjar Lampu, Desa Catur, Kintamani, Bangli, yaitu Tien Hong.

Tien Hong mengangkat karya beraliran abstrak yang merupakan gayanya berkarya sejak kuliah.

"Saya angkat simbol-simbol warna seperti merah dan menyatukan antara warna lokal Bali dengan Tionghoa," kata Tien yang juga dipanggil Ahong.

Karyanya juga beranjak dari pengalaman pribadi di desanya dimana saat uasai memasak juga melakukan tradisi ngejot begitu juga saat Hari Raya Kajeng Kliwon mebanten sebagaimana umat Hindu, begitu pula untuk pura yang ada di sana juga dibangun Konco.

Sementara itu, Pendiri Museum Neka, Pande Wayan Sutedja Neka mengatakan diangkatnya tema ini juga sebagai wujud membangkitkan kembali persaudaraan dalam perbedaan.

"Di Bali ada istilah nyama dan untuk orang Cina atau Tionghoa disebut Nyama Cina. Penggunaan kata nyama ini menyiratkan tidak adanya sekat dan jarak maupun sentimen etnik dalam pergaulan," kata Neka.

Pameran ini akan berlangsung dari tanggal 25 Juli hingga 25 Agustus 2018. Seniman yang ikut dalam pameran ini yaitu Kadek Jefri Wibowo, Dewa Made Johana, I Wayan Juni Antara, I Gusti Made Prawira Yudha, I Nengah Arimbawa, I Wayan Sudiarta, IB MD Pandit Parastu, Ni Luh Pangestu WS, I Nyoman Arisana, Riski Nanda Riwaldi, I Made Santika Putra, Dewa Gede Purwita, Komang Trisno Adi Wirawan, Kadek Darmanegara, Made Jendra, I Gede Hendra Putrawan, Made Karti Yoga, Putu Suhartawan, dan Tien Hong. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved