Bali Paradise

Desa Belimbing Tabanan Tawarkan Tracking Menantang Lewati Sawah Terasering

Seperti Desa Belimbing, Pupuan yang saat ini sudah memiliki jalur tracking dengan melintasi sawah dengan kontur terasering

Desa Belimbing Tabanan Tawarkan Tracking Menantang Lewati Sawah Terasering
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Desa Wisata Belimbing 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Desa Wisata yang ada di Tabanan kini mulai menyiapkan fasilitas pendukung pariwisata seperti jalur tracking hingga penyiapan akomodasi.

Seperti Desa Belimbing, Pupuan yang saat ini sudah memiliki jalur tracking dengan melintasi sawah dengan kontur terasering termasuk juga untuk objek wisata air terjun.

Desa Wisata Belimbing
Desa Wisata Belimbing (Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan)

Menurut data yang berhasil diperoleh, Belimbing memiliki  banyak potensi menarik dan eksositk. Seperti sawah terasering yang sudah mendunia.

Sawah  yang sempat  dijadikan lokasi nyangrai kopi massal ini sudah terkenal ke seluruh dunia dan tidak kalah dengan Jatiluwih ataupun daerah lainnya yang mengandalkan obyek sawah terasering.

Belimbing memiliki lahan pertanian terasering dengan luas 460 hektare dengan dibagi menjadi enam subak diantaranya Subak Mas, Subak Gemuh, Subak Nyanglad, Subak Teben Telabah, Subak Duren Taluh, Subak Suranadi.

Kemudian, Belimbing juga memiliki dua air terjaun yang aksesnya sudah dilakukan penataan yakni Singsing Bemben dan Singsing Sade.

Perbekel Desa Belimbing, I Made Adi Suyana mengatakan, pihaknya sangat mendukung upaya pengembangan Desa Belimbing menjadi desa  wisata dan menjadi tujuan kunjungan wisatawan. 

Desa Wisata Belimbing
Desa Wisata Belimbing (Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan)

Mereka tidak ingin masyarakat hanya jadi penonton  tanpa bisa menikmati hasilnya, sehingga penyiapan sarana dan prasarana pendukung agar wisatawan mau berkunjung bekerja sama dengan semua pihak yang ada di desa.

“Selama ini banyak wisatawan datang berkunjung, namun sebatas lewat begitu saja.  Potensi yang ada belum banyak dilirik selain sawah terasering.  Selain itu, sudah ada kesepakatan di masyarakat untuk tidak menjual lahan mereka ketika ada investor masuk. Masyarakat hanya menyewakan dalam jangka waktu tertentu,” ujarnya.

Adi melanjutan desa yang dibagi menjadi delapan banjar dinas ini mengakui sudah dikunjungi wisatawan sejak 2010 lalu.

Halaman
12
Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved