Bali Paradise

Jatiluwih Gelar Atraksi Mejukut Massal, Beri Edukasi Tentang Kearifan Lokal Pada Wisatawan

Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih akan menggelar festival yang kedua pada 14-15 September mendatang

Jatiluwih Gelar Atraksi Mejukut Massal, Beri Edukasi Tentang Kearifan Lokal Pada Wisatawan
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
Kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Minggu (5/8/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih akan menggelar festival yang kedua pada 14-15 September mendatang.

Pada pagelaran festival tahun ini akan mengusung tema Matha Subak, dan dikemas dengan konsep Tri Hita Karana yakni Tuhan, Manusia, dan Alam.

Bahkan, pada festival kali ini akan menggelar atraksi mejukut atau membersihkan lahan pertanian tradisional secara massal.

Dalam festival kedua ini lebih mengutamakan panampilan dari kolaborasi di bidang musik, kerajinan lokal, kuliner lokal, dan ciri khas dari obyek Jatiluwih, dengan melibatkan artis, seniman papan atas dengan masyarakat lokal di bidangnya, untuk memberikan dampak keikutsertaan warga di dalam Pariwisata DTW Jatiluwih yang saat ini mungkin belum maksimal.

Manager DTW Jatiluwih, I Nengah Sutirtayasa mengatakan, pagelaran festival tahun ini dengan festival sebelumnya memang berbeda.

Di mana pada festival pertama lebih menjurus ke parade budaya pertanian yang melibatkan subak.

“Namun untuk festival yang kedua ini lebih menonjolkan seni bambu, yang melibatkan pengerajin yang ada di Desa Jatiluwih dengan Eko Prawoto. Sehingga setelah itu, masyarakat akan bisa meningkatkan nilai tambah bambu,” kata Sutirtayasa, Minggu (5/8/2018).

Menurutnya, di Jatiluwih penghasil bambu cukup banyak, sehingga sangat perlu berkolaborasi dengan seniman bambu yang hasil karyanya sudah sampai di nasional dan internasional, sebagai bekal untuk meningkatkan nilai tambah bambu itu sendiri.

Dia melanjutkan, juga akan digelar atraksi mejukut massal di lahan pertanian subak Jatiluwih.

Dan untuk wisatawan yang datang juga diperkenankan ikut dalam atraksi membersihkan lahan pertanian tradisional ini.

“Untuk atraksi mejukut ini kami terbuka, siapa saja boleh ikut di sana nanti,” imbuhnya.

Sutirtayasa menjelaskan, sejatinya pagelaran festival ini tidak saja untuk membuat suatu pertunjukan hiburan, melainkan lebih mengedepankan proses-proses dari edukasi ke masyarakat lokal di Jatiluwih.

Selain itu, untuk kuliner juga menggunakan bahan lokal seperti beras merah, keladi, dan lainnya, serta menampilkan produk-produk hasil pertanian Jatiluwih.

“Jadi, kegiatan festival tidak hanya berorientasi pada target kunjungan, tetapi bagaimana inti dari festival ini, yakni sebuah kolaborasi di bidang musik, kerajinan lokal, kuliner lokal, dan ciri khas dari obyek Jatiluwih, dengan melibatkan artis, seniman papan atas dengan masyarakat lokal di bidangnya, untuk memberikan dampak keikutsertaan warga di dalam Pariwisata DTW Jatiluwih,” jelasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved