7 Hal Yang Disoroti Kurator dalam PKB ke-40, Mulai Dari Kualitas Sajian

Ia berharap perlu meminimalisir hal tersebut dan membuka ruang untuk seniman yang baru.

7 Hal Yang Disoroti Kurator dalam PKB ke-40, Mulai Dari Kualitas Sajian
Istimewa
Salah satu penampilan di Pesta Kesenian Bali. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam acara evaluasi PKB ke-40 tahun 2018, yang dilaksanakan di Gedung Ksirarnawa, Art Center, Denpasar, Bali, Prof. Dr. Wayan Dibya yang juga kurator PKB menyoroti tujuh hal yang mesti diperhatikan untuk penyelenggaraan PKB kedepannya.

Tujuh hal tersebut terkait dengan pelaksanaan parade dan pagelaran.

Hal pertama yang disoroti yaitu terkait kualitas sajian yang ditampilkan.

"Kualitas sajian yang nampaknya perlu peningkatan lebih serius. Karena banyak penampilan yang kualitasnya tidak lebih dari tampilan kesenian biasa di luar PKB. Mestinya yang ditampilkan garapan unggul," kata Prof. Dibya, Selasa (7/8/2018).

Hal kedua yang disoroti yaitu masih adanya penggunaan lakon oleh penampil yang tidak didasarkan kajian sastra dan sumber sastra, ditambah kemampuan improvisasi penampil yang keluar dari bingkai yang ditampilkan. 

"Mungkin karena demam piala dunia, diisi hal-hal terkait piala dunia. Seharusnya hal itu bisa dihindarkan dan itu tidak lebih dengan penampilan di desa," imbuhnya.

Yang ketiga tampilnya kesenian dengan pelaku yang sama berulang-ulang.

Ia berharap perlu meminimalisir hal tersebut dan membuka ruang untuk seniman yang baru.

Keempat terkait ketaatan terhadap kesepakatan yang ada semisal masuk ke panggung tidak boleh ada api, tapi masih ada yang melanggar. 

Kelima, terkait kesiapan pembawa acara karena masih ada hal-hal yang membuat gaduh di awal pertunjukan karena MC disoraki penonton dan termasuk MC juga kurang menguasai materi.

Keenam yaitu kesiapan para pembina dan pengamat dalam melaksanakan tugasnya.

"Contoh sosialisasi tema kita jarang berhadap dengan penggarap tapi kita berhadapan dengan pejabat, padahal dalam surat yang diundang saat sosialisasi adalah penggarap," katanya.

Terakhir masih ada pengamat yang tidak bisa melakukan tugas dengan dengan beberapa alasan. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved