17 Tahun Jadi Panol di Pantai Kedonganan, Sunarmo Mampu Sekolahkan Anaknya Sampai Perguruan Tinggi

Panol, lebih tepatnya kuli angkut air laut yang nantinya dikirim ke setiap pedagang di Pasar Kedonganan,

17 Tahun Jadi Panol di Pantai Kedonganan, Sunarmo Mampu Sekolahkan Anaknya Sampai Perguruan Tinggi
Tribun Bali / Rino Gale
Sunamo sedang mengangkut air laut dari bibir pantai untuk dibawa ke pedagang pasar Kedonganan, Badung, Bali, Jumat (10/8/2018) 

TRIBUN-BALI.COM, BADUNG - Dengan upah Rp 700 ribu perbulan, Sunamo (36) asal Jember yang bekerja sebagai panol (kuli angkut air laut) di Pantai Kedonganan ini, ia mampu menyekolahkan anaknya sampai perguruan tinggi.

Jumat (10/8/2018) saat ditemui Tribun Bali, menurut Sunamo, bekerja sebagai panol ini sangat menyenangkan, sebab sudah 17 tahun ia bekerja sebagai panol untuk kehidupan sehari-hari.

Bekerja sebagai panol dengan upah yang minim, baginya sangat cukup untuk membiayai istri dan kedua anaknya yang ada di Jember.

"Dengan biaya segitu, sangat cukup bagi saya untuk biaya kehidupan sehari-hari, serta kirim perbulannya buat istri dan anak. Anak saya sudah SMP dan satunya kuliah, gak tau saya nama universitasnya. Ya bekerja sambil bekerja intinya. Saya juga di sini gak ada kos, biasa saya tidur di pos sini," jelasnya.

Panol, lebih tepatnya kuli angkut air laut yang nantinya dikirim ke setiap pedagang di Pasar Kedonganan, dengan upah yang didapat Rp 700 ribu per bulan.

"Dalam sehari biasanya dapat 7 sampai 10 konsumen (pedagang) yang minta dibawain air laut mas," ungkapnya.

Dengan gerobak yang dibuatnya sendiri, grobak tersebut mampu mengakut maksimal 4 jeriken air dengan berat satu jeriken 15 kilogram.

"Biasa dalam sehari, bisa 7 kali bolak-balik dari pasar ke bibir pantai untuk ambil air laut," ujarnya. (*)

Penulis: Rino Gale
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help