Gempa Bumi Lombok

Mengenal Masjid Bayan Beleq Berusia Sekitar 16 Abad Masih Kokoh Meski Diguncang Gempa

Masjid yang terletak di Belek, Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat itu tampak utuh sebagaimana didirikan di awal.

Mengenal Masjid Bayan Beleq Berusia Sekitar 16 Abad Masih Kokoh Meski Diguncang Gempa
TRIBUN BALI/NI KETUT SUDIANI
Masjid Bayan Beleq Berusia Sekitar 16 Abad Masih Kokoh Saat Diguncang Gempa, Jumat (10/8/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, LOMBOK - Sebuah Masjid yang dikenal dengan Masjid Kuno Bayan Beleq yang didirikan sekitar abad 16 lalu itu, masih terlihat kokoh berdiri.

Berbeda dengan bangunan modern lainnya yang berada di sekitar lokasi, masjid kuno itu tetap berdiri tanpa satu kerusakan pun.

Disahkan sebagai cagar budaya, masjid yang terletak di Belek, Karang Bajo, Bayan, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat itu tampak utuh sebagaimana didirikan di awal.

Baca: Warga Dusun Kebaluan Bertahan Hidup Hanya dengan Makan Nasi dan Mie, Ini Penjelasan Jero Mangku

Baca: Cetak Gol dan Menang Lagi, Spaso Puji Dua Sosok ini

Raden Sutra Bayan Pemerhati Adat di Desanya, saat ditemui tribun-bali.com, di Rumah Adat Timur Bayan siang tadi mengakui. kalau tempat-tempat adat di sana berdiri kokoh.

Termasuk masjid tersebut, kata dia tidak ada ada kerusakan sama sekali.

"Kalau bangunan yang modern khawatir kita tempati. Ada yang roboh, retak, sampai rusak semua dan tidak bisa kita tempati," kata Raden kepada tribun-bali.com, Jumat (10/8/2018) siang.

Perihal bencana gempa bumi tersebut, masyarakat adat di Desa Bayan ungkapnya meyakini bahwa setiap bencana dan apa yang terjadi di bumi ini merupakan kehendak Allah SWT.

Diperkirakan lokasi tersebut didakwahkan Islam oleh seorang Sunan bernama Sunan Prakeng yang merupakan murid dari Sunan Giri

"Tiang masjid itu tetap kuat sejak didirikan. Dari tokoh masyarakat kan Islam datang di Lombok pada abad ke 16 jadi diperkirakan didirikan saat itu. Untuk membuktikan adanya penyebaran Islam, maka didirikanlah masjid kuno itu," kata dia bercerita.

Konstruksi bangunan seperti itu sejak awal dan merupakan konstruksi lokal dari desa adat setempat. (*)

Penulis: Busrah Ardans
Editor: Rizki Laelani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help