Simpang Ring Banjar

Jro Mangku Tak Boleh Merapal Mantra, Genta Peninggalan Pasek Gelgel Pimpin Ritual

Pada umumnya, piodalan dipimpin oleh sulinggih. Namun hal ini tidak terjadi di Banjar Paneca

Jro Mangku Tak Boleh Merapal Mantra, Genta Peninggalan Pasek Gelgel Pimpin Ritual
Tribun Bali/I Wayan Eri Gunarta
Pura Penataran Agung Pasek Gelgel, yang menjadi stananya Ida Bhatara Ratu Bujangga, Kamis (23/8). Suasana tradisional Bali tampak kental di Banjar Paneca. 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Pada umumnya, piodalan dipimpin oleh sulinggih.

Namun hal ini tidak terjadi di Banjar Paneca, Desa Melinggih Kelod, Kecamatan Payangan.

Secara turun-temurun, odalan di banjar yang terdiri dari 450 Kepala Keluarga (KK) ini, dipimpin oleh bajra atau genta yang merupakan peninggalan sejarah Pasek Gelgel.

Dalam setiap ritual, bajra tersebut dibunyikan atau digetarkan oleh jro mangku setempat.

Namun jro mangku tidak diperkenankan merapal mantra.

Bendesa Banjar Paneca, I Ketut Sudira ditemui, Kamis (23/8/2018) mengatakan, sejak turun-temurun warga Banjar Paneca tidak pernah menggunakan sulinggih, dalam upacara keagamaan.

Krama nyungsung Ida Bhatara Ratu Bujangga yang berstana di Pura Penataran Agung Pasek Gelgel, Banjar Paneca.

“Segala sesuatu upacara tidak pernah menggunakan sulinggih. Tapi, kami dipimpin oleh bajra. Dalam setiap prosesi, bajra itu dibunyikan jro mangku, dan jro mangku pun tidak memantra,” ujar Sudira.

Kata dia, selain di pura, bajra juga digunakan di setiap upacara besar yang dilakukan di rumah warga.

Sebab kebetulan, semua warga di Banjar Paneca merupakan keturunan dari klan pasek.

Halaman
1234
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved