Dunia Anak, Filosofi Hidup, Keriangan di Sawah dalam Empat Sesi di Satu Panggung

Tahun 2013 di Kota Denpasar lahir sebuah sanggar seni bernama Catur Muka Swara.

Dunia Anak, Filosofi Hidup, Keriangan di Sawah dalam Empat Sesi di Satu Panggung
Tribun Bali/Putu Supartika
Penampilan Sanggar Seni Catur Muka Swara di Art Center, Denpasar, Senin (27/8/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Tahun 2013 di Kota Denpasar lahir sebuah sanggar seni bernama Catur Muka Swara.

Sanggar seni ini dibentuk dan dipimpin oleh I Nyoman Astita yang juga merupakan dosen di ISI Denpasar.

Sanggar seni ini telah mengikuti berbagai ajang kesenian di Bali termasuk pentas dalam gelaran Bali Mandara Mahalango 2018, Senin (27/8/2018) malam di Gedung Ksirarnawa Art Center Denpasar.

Penampilan sanggar ini dibagi ke dalam empat sesi yang mampu membius penonton dengan penampilannya yang sebagian besar berupa lagu.

Apalagi dalam penampilannya kali ini juga turut serta Jegeg Bali 2018, Dena Ersafira.

Pada sesi pertama ditampilkan empat buah lagu anak-anak dan pada sesi pertama ini diawali dengan penampilan bertajuk Denpasar Open Song yang dilanjutkan dengan Sandikala, Peteng Tanpa Sundih, serta memble beberapa lagu anak-anak.

Lagu Sandikala bercerita tentang anak-anak yang lupa waktu saat bermain dan mengingatkan pada mereka untuk diam saat sandikala karena saat itu dipercaya roh jahat suka mengganggu.

Sebagai figuran, tampil tiga orang anak lelaki bermain layangan.

Saat sedang asik bermain layangan datang tiga orang anak perempuan mengingatkan agar tidak bermain saat sandikala.

"Suud malu suba sandikala (sudahi dulu sudah menjelang petang)" kata ketiga anak perempuan itu.

Halaman
123
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved