Kisah Putra Klungkung Terpilih Jadi Pengerek Bendera di Istana Merdeka, Jyoti: Semua Ada Hikmahnya

Senyum semringah terpancar dari wajah Sang Putu Hendra Aditya Jyoti (16) ketika ditemui di sekolahnya di SMA Negeri 1 Semarapura, Selasa (28/8).

Kisah Putra Klungkung Terpilih Jadi Pengerek Bendera di Istana Merdeka, Jyoti: Semua Ada Hikmahnya
Kolase Tribun Bali/Eka Mita Suputra/ist
Kolaase Sang Putu Hendra Aditya Jyoti (kiri), siswa kelas XI SMAN 1 Semarapura, yang bertugas sebagai pengerek Bendera Pusaka di Istana Merdeka. Sang Putu Hendra Aditya Jyoti (16) bersama Wakil Kepala Sekolah bidang Kurikulum SMAN 1 Semarapura, Ni Luh Ratna Tirtawati, ketika ditemui di sekolahnya di Semarapura, Selasa (28/8). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Senyum semringah terpancar dari wajah Sang Putu Hendra Aditya Jyoti (16) ketika ditemui di sekolahnya di SMA Negeri 1 Semarapura, Selasa (28/8).

Setelah sukses menjalankan tugas negara sebagai pengerek bendera pusaka, ia kembali ke Klungkung, menjalani aktivitas normal sebagai siswa kelas XI MIPA.

Menjadi pengerek bendera pusaka saat saat upacara HUT ke-73 Proklamasi Kemerdekaan RI di Istana Merdeka Jakarta, 17 Agustus 2018 merupakan pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan oleh Sang Putu Hendra Aditya Jyoti.

Masih terbayang dalam ingatannya, bagaimana dirinya terpilih diantara orang-orang unggulan untuk mengerek bendera pusaka yang disaksikan langsung oleh Presiden RI, Jokowi dan tamu kenegaraan lainnya.

"Terima kasih saya ucapkan kepada seluruh warga negara Indonesia, masyarakat Bali dan khususnya Kabupaten Klungkung, serta keluarga besar sekolah SMA Negeri 1 Semarapura atas doa, support, dan motivasinya,” ujar remaja kelahiran Klungkung, 5 Agustus 2002 tersebut.

Pengalaman berharga Jyoti diawali ketika dirinya memberanikan diri mengikuti seleksi Paskibra (Pasukan Pengibar Bendera) di sekolah.

Tidak menyangka, ia akhirnya dikirim ke tingkat kabupaten, kemudian lolos dikirim ke provinsi mewakili Klungkung.

Di tingkat provinsi, remaja dengan tinggi 173 cm dan berat 70 Kg ini, harus mengikuti tahapan tes kesamaptaan, wawancara, psikotes, pengetahuan umum dan lainnya.

“Saya mendapat nilai tertinggi waktu itu, yakni 83,5. Sebelum mengikuti tes ke tingkat nasional, saya dibina dulu di provinsi selama  5 hari untuk persiapan,” ujar Jyoti, putra sulung pasangan Sang Putu Suweta dan Ni Ketut Sukerti.

Ketika lolos di tingkat nasional, Jyoti awalnya mendapat posisi sebagai pembentang bendera.

Halaman
123
Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved