Bali Paradise

Wisatawan Boleh Gabung Mejukut Massal, Festival Jatiluwih Bakal Tonjolkan Seni Bambu

Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih bakal menggelar festival yang kedua pada 14-15 September ni

Wisatawan Boleh Gabung Mejukut Massal, Festival Jatiluwih Bakal Tonjolkan Seni Bambu
Tribun Bali/I Made Prasetia Aryawan
JELANG FESTIVAL - Petani tampak menggarap sawahnya di kawasan Warisan Budaya Dunia (WBD) Jatiluwih, Penebel, Tabanan, Kamis (6/9/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Daerah Tujuan Wisata (DTW) Jatiluwih bakal menggelar festival yang kedua pada 14-15 September ni.

Pada pagelaran festival tahun ini akan mengusung tema Matha Subak dan mengemas dengan konsep Tri Hita Karana.

Pada festival kali ini akan menggelar atraksi mejukut atau membersihkan lahan pertanian tradisional secara massal.

Dalam festival kedua ini lebih mengutamakan panampilan dari kolaborasi di bidang musik, kerajinan lokal, kuliner lokal, dan ciri khas dari objek Jatiluwih dengan melibatkan artis, seniman papan atas dengan masyarakat lokal di bidangnya, untuk memberikan dampak keikutsertaan warga di dalam Pariwisata DTW Jatiluwih yang saat ini mungkin belum maksimal.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih yang juga Ketua Panitia Festival, I Nengah Sutirtayasa mengatakan, pagelaran festival tahun ini dengan festival sebelumnya memang berbeda.

Pada festival pertama kali lebih menjurus ke parade budaya pertanian yang melibatkan subak.

“Namun untuk festival yang kedua ini lebih menonjolkan seni bambu yang melibatkan pengrajin yang ada di Desa Jatiluwih dengan Eko Prawoto. Sehingga setelah itu, masyarakat akan bisa meningkatkan nilai tambah bambu,” kata Sutirtayasa, Kamis (6/9/2018).

Menurutnya, di Jatiluwih penghasil bambu cukup banyak sehingga sangat perlu berkolaborasi dengan seniman bambu, yang hasil karyanya sudah sampai di nasional dan internasional sebagai bekal untuk meningkatkan nilai tambah bambu itu sendiri.

Selain itu juga akan digelar atraksi mejukut massal di lahan pertanian subak Jatiluwih.

Dan untuk wisatawan yang datang juga diperkenankan ikut dalam atraksi membersihkan lahan pertanian tradisional petani ini.

“Untuk atraksi mejukut ini kami terbuka, siapa saja boleh ikut disana nanti,” imbuhnya.

Sutirtayasa menjelaskan, sejatinya pagelaran festival ini tidak saja untuk membuat suatu pertunjukan hiburan, melainkan lebih mengedepankan proses-proses dari edukasi ke masyarakat lokal di Jatiluwih.

Selain itu, untuk kuliner juga menggunakan bahan lokal seperti beras merah, keladi dan lainnya serta menampilkan produk-produk hasil pertanianJatiluwih.

“Jadi, kegiatan festival tidak hanya berorientasi pada target kunjungan, tetapi bagaimana inti dari festival ini yakni sebuah kolaborasi di bidang musik, kerajinan lokal, Kuliner lokal dan ciri khas dari objek Jatiluwih dengan melibatkan artis, seniman papan atas dengan masyarakat lokal di bidangnya, untuk memberikan dampak keikutsertaan warga di dalam Pariwisata DTW Jatiluwih,” jelasnya. (*)

Penulis: I Made Prasetia Aryawan
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved