Menyentuh, Kisah Perjalanan Hidup Mangku Pastika Bukan Dimulai dari Nol Tapi Minus

"Saya juga orang miskin dan transmigran. Saking miskinnya saya transmigrasi ke Bengkulu cari hidup.

Menyentuh, Kisah Perjalanan Hidup Mangku Pastika Bukan Dimulai dari Nol Tapi Minus
Istimewa
Made Mangku Pastika dalam orasinya di Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS) di Lapangan Niti Mandala, Renon, Minggu (11/3/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - "Saya juga orang miskin dan transmigran. Saking miskinnya saya transmigrasi ke Bengkulu cari hidup. Tahun 2002 baru pulang ke Bali saat bom Bali I. Baru saya tahu Bali," kata mantan Gubernur Bali, Made Mangku Pastika dalam Podium Bali Bebas Bicara Apa Saja (PB3AS), Minggu (9/9/2018) pagi.

Ia mengatakan perjalanan hidupnya bukan dimulai dari nol, namun dari minus.

Di rantauan saat menjadi transmigran, supaya bisa sekolah SMP ia pergi ke kota sendiri.

Ketika itu berumur 12 tahun.

Diperjalanan ia pingsan, lalu dipungut orang dan tinggal di sana.

"Saya jualan es serut sama kue di tempat yang tidak saya tahu sambil saya sekolah di SMP," katanya.

Baca : Senjakala Podium Bali Bebas Bicara, Mangku Pastika: Saya Pesimis, Ini Tanda-tanda Akan Mati
 

Bahkan, karena tidak mampu beli buku, ia menggunakan kertas rokok yang putih yang dijepret sebagai buku catatan.

"Ulangan minta selembar kertas sama temen. Saya harus tulis kecil-kecil biar cukup," akunya.

Ketika SMA, setiap hari libur ia pergi ke pasar menjadi buruh angkat barang.

Hal itu juga dilakoninya sambil menjual koran supaya bisa bersekolah.

Malamnya ia tidur di kelas karena kebetulan ayahnya penunggu sekolah dan tinggal di sana.

"Lalu saya masuk AKABRI dari Palembang dan satu-satunya orang Bali. Di Sukabumi baru saya merasakan tidur di kasur. Dari kecil sampai tamat SMA saya tidak pernah tidur di kasur," katanya.

Ia juga mengakui, di antara saudaranya yang lain, dirinyalah yang paling beruntung karena bisa masuk AKABRI dan bahkan bisa jadi gubernur.

"Tidak enak jadi orang miskin, dilecehkan makan dapat sisa. Itulah sebabnya orang Bali tudak boleh jadi orang miskin. Orang berkecukupan asik menguruskan badan, sementara orang miskin kurus kering sibuk mencari makan," katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved