Siswa Terus Bertanya Kapan Sekolah Diperbaiki, Kepsek Belum Terima Kepastian Perbaikan Kelas

Para siswa SDN 1 Tiying Tali, Kecamatan Abang, sejak tiga hari lalu mulai belajar di tenda yang terbuat dari bambu dan anyaman daun kelapa

Siswa Terus Bertanya Kapan Sekolah Diperbaiki, Kepsek Belum Terima Kepastian Perbaikan Kelas
Tribun Bali/Saiful Rohim
Siswa SDN 1 Tiying Tali belajar di tenda yang terbuat dari bambu beratap rajutan daun kelapa, Jumat (14/9/2018). Siswa terpaksa belajar di luar kelas karena gedung sekolah mereka rusak diguncang gempa Lombok beberapa waktu lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, AMLAPURA - Para siswa SDN 1 Tiying Tali, Kecamatan Abang, sejak tiga hari lalu mulai belajar di tenda yang terbuat dari bambu dan anyaman daun kelapa.

Tenda tersebut dibangun di halaman sekolah untuk menggantikan ruang sekolah mereka yang rusak diguncang gempa Lombok.

Kepala Sekolah SDN 1 Tiying Tali, Sang Putu Swandiyasa menceritakan, siswanya terus menanyakan kapan sekolah mereka akan diperbaiki.

Kata dia, siswa mulai mengeluh karena belajar di luar kelas dengan tenda.

"Tetap tak efektif karena terbuka. Saat belajar suara-suara masih terdengar sehingga siswa terganggu saat belajar. Kasihan mereka kalau begini," kata Swandiyasa, Jumat (14/9/2018).

Ia belum bisa memastikan kapan sekolahnya akan diperbaiki.

Sang Putu Swandiyasa mengaku sudah menyampaikan kondisi sekolah ke UPT Pendidikan, Dinas Pendidikan, serta perwakilan pusat yang datang ke Tiying Tali.

Kata dia, pihaknya sudah meminta UPT Pendidikan untuk memperbaiki satu ruang kelas untuk menyimpan barang-barang sekolah, seperti buku, jendela, meja, dan peralatan lain.

"Sekolah tak ada anggaran. Kalau pakai dana bantuan operasional sekolah, itu tak bisa. Dana itu bisa digunakan untuk perbaikan kerusakan ringan. Ini rusaknya parah," kata dia.

Ada enam sekolah yang diusulkan ke Kemendikbud untuk mendapat perbaikan.

Sekolah tersebut yakni SMPN 1 Sideman senilai Rp 196 juta, SMPN 3 Abang senilai Rp 235 juta, SDN 3 Bunutan senilai Rp 391 juta, SDN 1 Tiying Tali senilai Rp 566 juta, SDN 3 Purwakerti dan SDN 3 Duda masing-masing senilai Rp 196,5 juta.

Untuk sekolah yang mengalami rusak ringan, perbaikan mengunakan dana BOS atau dana pemeliharaan ringan. (*)

Penulis: Saiful Rohim
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved