Dharma Wacana

Ida Pandita: Kembalikan Agama sebagai Panglima Adat

Ketika berbicara adat dan agama, khusus di Bali, banyak yang tak bisa membedakan. Seolah-olah, adat dan agama adalah sesuatu yang sama.

Ida Pandita: Kembalikan Agama sebagai Panglima Adat
TRIBUN BALI
Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda 

Oleh Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda

TRIBUN-BALI.COM, - Ketika berbicara adat dan agama, khusus di Bali, banyak yang tak bisa membedakan. Seolah-olah, adat dan agama adalah sesuatu yang sama.

Namun kenyataannya, adat di Bali memiliki tiga sifat. Pertama, sebagai wadah pengamalan ajaran agama Hindu.

Kedua, ada produk-produk adat yang lahir bukan dari ajaran agama, namun pelaksanaannya menunjang ajaran agama Hindu.

Ketiga, terlepas dari peran positifnya, ada produk adat yang bertentangan dengan ajaran agama dan norma-norma lainnya.

Nah, adat dalam kategori ketiga inilah, yang disebut mengkerdilkan agama Hindu. Bahkan, bukan hanya mengkerdilkan, tetapi justru membuat penganutnya meninggalkan agama Hindu.

Oleh sebab itu, pemangku adat meski tahu, mana yang di-adat-kan dan mana yang tidak. Marilah kembali mengedepankan unsur-unsur nilai spiritual dalam setiap produk adat.

Di dalam teks dikatakan, adat yang bersumber dari ajaran agama Hindu adalah Sat Acara (kebenaran).

Saat ini sering adat ditumpangi kepentingan pihak tertentu, dan mengesampingkan spirit agama. Praktik ini banyak terjadi.

Padahal lembaga adat kita, yang disebut ‘pekraman’, jika kita kembali pada sejarahnya, bukanlah desa kesepakatan secara turun-temurun. Namun dia lahir untuk mengamalkann ajaran agama Hindu.

Halaman
123
Penulis: I Wayan Eri Gunarta
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help