Hanya Ada di Desa Terunyan, Tari Sakral Ratu Brutuk Akan Dipentaskan saat Karya Ngusaba Kapat Lanang

Tarian sakral Ratu Brutuk asal Desa Adat Terunyan bakal kembali dipentaskan dalam waktu dekat

Hanya Ada di Desa Terunyan, Tari Sakral Ratu Brutuk Akan Dipentaskan saat Karya Ngusaba Kapat Lanang
Istimewa
Tarian Ratu Brutuk pada Karya Ngusaba Kapat Lanang dua tahun lalu. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Tarian sakral Ratu Brutuk asal Desa Adat Terunyan bakal kembali dipentaskan dalam waktu dekat.

Pementasan tarian ini bersamaan dengan Upacara Purnama Kapat (Karya Ngusaba Kapat Lanang) di Pura Pancering Jagat, yang digelar tiap dua tahun sekali.

Ketua Panitia Karya, I Ketut Jaksa, Rabu (19/9/2018) mengatakan, sesuai dudonan karya, puncak upacara purnama kapat akan dilangsungkan pada rahinan purnamaning kapat Senin (24/9/2018) pekan depan.

Ia mengungkapkan, sejumlah persiapan sudah mulai dilakukan krama Desa Adat Terunyan, jelang pelaksanaan upacara Purnama Kapat sejak tilem Ketiga, yakni pada Minggu (9/9/2018) lalu.

Mulai dari membuat banten, hingga mengumpulkan sarana dan prasarana upacara.

"Salah satunya mencari sarana upacara berupa keraras (daun pisang kering) ke Desa Pinggan, Kintamani sebagai busana Ratu Brutuk yang dilakukan oleh Jro Teruna. Semua yang ngayah adalah krama desa adat dan dinas Desa Terunyan, juga teruna Desa Adat Suter," ujarnya.

Karya ngusaba kapat lanang di Pura Pancering Jagat, lanjut Jaksa, memang tergolong unik dan berbeda dengan karya di pura lain.

Sebab dalam pelaksanaan karya dua tahunan ini, akan dipentaskan tarian sakral yang disebut Ratu Brutuk, dan hanya ada di Desa Adat Terunyan.

"Khususnya tarian sakral Ratu Brutuk yang akan dipentaskan pada 28 dan 29 September. Tarian ini merupakan simbol pertemuan purusa dan pradana atau penyatuan akasa lawan pertiwi, yang dipercaya memberikan kesuburan dan kesejahteraan alam semesta beserta isinya. Tari sakral ini disimboliskan dengan pertemuan Ida Ratu Sakti Pancering Jagat dengan Ida Ratu Ayu Dalem Dasar/Dewi Danu," paparnya.

Yang tak kalah unik, sambung Ketut Jaksa, tarian sakral ini hanya dibawakan oleh teruna, yang harus menyucikan diri dari hawa nafsu selama 15 hari, dengan cara tidak boleh berhubungan dengan wanita.

Apabila dilanggar, akan berakibat buruk pada teruna tersebut.

"Mulai tanggal 21 teruna ini harus sudah mulai mekemit di pura sekaligus menyucikan diri, dan malam harinya sambil ngiket keraras untuk dipakai bulu Ratu Brutuk. Teruna ini akan mekemit sampai tanggal 29 September,” jelasnya.

Sementara itu, sesuai dudonan karya, disampaikan bahwa rangkaian upacara purnama kapat di Pura Pancering Jagat telah dimulai sejak Tilem Ketiga (9/9/2018) dengan prosesi ngudal bakti keramasan, ngejeroang odak dan gaturang bakti pengenten.

Pada puncak karya, Senin (24/9/2018), akan dilaksanakan prosesi Ida Bhatara Katuran Bakti Agung, ngaturang bakti pangusaban, warga peyanggra ngaturang pebaktian/petangkilan, ngudal ilen-ilen Ratu Brutuk dan Ngangsuh ilen-ilen Ratu Brutuk.

Upacara purnama kapat di Pura Pancering Jagat akan diakhiri dengan prosesi piodalan di Pura Ratu Sakti Tegeh Kaler pada Sabtu (27/9/2018).(*)

Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved