Terakhir Digelar 5 Abad Lalu, Pakraman Gelgel Akan Gelar Karya Utamaning Utama di Pura Dasar Bhuana

Mengulangi sejarah, Desa Pakraman Gelgel akan kembali menggelar upacara dengan tingkatan Utamaning Utama tersebut,

Terakhir Digelar 5 Abad Lalu, Pakraman Gelgel Akan Gelar Karya Utamaning Utama di Pura Dasar Bhuana
TRIBUNBALI/EKA MITA SUPUTRA
Sejumlah warga Pakraman Gelgel bersiap-siap untuk menggelar Karya Utamaning Utama di Pura Dasar Bhuana. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Berdasarkan catatan sejarah, pernah diadakan upacara Homa Yadnya di Pura Dasar Bhuana Gelgel.

Yadnya ini terakhir digelar sekitar 500 tahun yang lalu, atau pada massa keemasan Kerajaan Gelgel.

Mengulangi sejarah, Desa Pakraman Gelgel akan kembali menggelar upacara dengan tingkatan Utamaning Utama tersebut, namun dengan sarana upakara yang berbeda.

Ratusan masyarakat Pakraman Gelgel sudah mulai ngayah di Pura Dasar Bhuana, Kamis (20/9/2018).

Baca: Syarat Ini Akan Kandaskan Harapan Guru yang Puluhan Tahun Mengabdi Jadi PNS

Baca: Bali United Segera Berlatih di Tempat Baru, Udaranya Segar dan Dikelilingi Hutan Bakau

Baca: Petir Menyambar di Siang Bolong, Toni Meregang Nyawa Sementara Sonik Terpental

Krama wanita tampak sibuk membuat berbagai sarana upakara, sementara laki-laki sibuk membuat penjor dan menyiapkan atap alang-alang.

"Walau ada kegiatan, tapi sempatkan diri untuk luangan waktu ngayah. Terlebih, upacara yang akan digelar ini katanya terkahir dilaksanakan 500 tahun yang lalu. Seumur hidup, hanya saat ini kami bisa melihat atau berpartisipasi di upacara ini," jelas Merta, salah seorang warga Gelgel.

Bendesa Pakraman Gelgel, Putu Arimbawa, bersama bersama petajuh (wakil) Wayan Suandi, petengan (bendahara) Made Suryawan dan Baga Kehumasan Ketut Sugiana mengungkapkan, ikhwal awal upacara ini diawali dari sumber tertulis yang menceritakan sempat digelar upacara agung yang disebut Homa Yadnya di Kerajaan Gelgel.

Upacara itu digelar pada masa keemasan Kerajaan Gelgel, yang dipimpin Dalem Waturenggong sekitar abad ke-15 lalu.

Saat itu, upacara ini dipuput oleh dua orang tokoh agama yang termasyur di massanya, yakni Dang Hyang Niratha dan Dang Hyang Astapaka.

Baca: Sah Bercerai, Lina Tak Dapatkan Harta dari Sule, Ini Alasan Hukumnya

Baca: Ini Cara Jitu Pria Pasuruan Pikat Wanita, Bisa Peras Wanita Hingga Lakukan Ini, Kini Berakhir di Sel

"Berdasarkan catatan sejarah itu, kami lalu meminta pendapat ke beberapa sulinggih terkait karya homa yadnya ini," jelas Putu Arimbawa

Berawal dari catatan sejarah, dan petunjuk para sulinggih, Pakraman Gelgel pun sepakat menggelar upacara utamaning utama (mautama) yakni Karya Agung Memungkah, Nubung Pedagingan, Ngenteg Linggih, Pedudusan Agung, Tawur Panca Wali Krama, Mahayu Jagat, Marisuda Gumi. Upacara ini serupa dengan Homa Yadnya yang terakhir digelar 5 abad silam

"Berdasarkan petunjuk sulinggih, upacara ini utamaning utama, serupa Panca Wali Krama di Besakih. Dalam perjalanannya hingga saat ini, Pura Dasar Bhuana sebagai Kahyangan Jagat Bali sudah beberapa kali menjalani renovasi dan penataan, tapi belum pernah dilakukan pelaksanaan karya utamaning utama ini. Berdasarkan catatan sejarah, terkahir ini dilaksanakan 500 tahun silam," ungkapnya. (*)

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Rizki Laelani
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved