Gara-gara Kandangkan Jalak Bali, Ketut Regen Divonis Hakim 2 Bulan Lebih Ringan dari Tuntutan

Ketut Regen (30), tampak tegang saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bangli, Kamis (4/10).

Gara-gara Kandangkan Jalak Bali, Ketut Regen Divonis Hakim 2 Bulan Lebih Ringan dari Tuntutan
Tribun Bali/M. Fredey Mercury
I Ketut Regen saat menjalani sidang pembacaan vonis di Pengadilan Negeri Bangli, Kamis (4/10/2018). Ia divonis satu bulan penjara usai menagkap burung Jalak Bali yang merupakan satwa dilindungi. 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI- Ketut Regen (30), tampak tegang saat menjalani sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bangli, Kamis (4/10).

Pria asal Dusun Jehem Kaja, Desa Jehem, Tembuku itu menjalani sidang putusan atas kasus menangkap Jalak Bali yang merupakan satwa dilindungi.

Sidang yang dipimpin oleh ketua Majelis Hakim, Anak Agung Putra Wiratjaya menyatakan terdakwa, I Ketut Regen terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana dengan sengaja menangkap dan memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.

Ia menjatuhkan hukuman satu bulan penjara, serta pidana denda sebesar Rp 100 ribu.

Vonis hakim ini lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) dua pekan lalu, yakni pidana penjara selama tiga bulan, dengan pidana denda sebesar Rp 500 ribu.

Terhadap keputusan majelis hakim, JPU pengganti, yakni Joko Suryanto menyatakan pikir-pikir, sehingga keputusan persidangan kala itu belum berkekuatan hukum tetap.

Ketua Majelis Hakim, Anak Agung Putra Wiratjaya menuturkan, sebelumnya Regen sempat ditahan pada tanggal 20 Agustus, dan kemudian masa penahanannya ditangguhkan per tanggal 20 September setelah menjalani sidang tuntuan.

Penangguhan masa tahanan ini melihat dari sisi kemanusiaan, bahwa Regen merupakan kepala keluarga memiliki anak yang masih balita, tidak memiliki pekerjaan tetap. 

“Di samping itu majelis mendapatkan jaminan bahwa yang bersangkutan tidak akan melarikan diri, tidak mengulangi tindak pidana lagi, dan akan hadir pada persidangan sesuai dengan agendanya,” jelas Agung Putra.

Tindakan tegas aparat penegak hukum sudah tepat yakni untuk menjaga sumber daya hayati, sehingga kerusakan dan kepunahan yang akan berakibat terganggunya ekosistem dapat dihindarkan.

Halaman
123
Penulis: Muhammad Fredey Mercury
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved