Tak Lolos Klasifikasi hingga Harus Pindah Cabor, Putu Christiani Gugup Jelang Pertandingan APG 2018

Atlet Bulutangkis difabel Bali, Putu Christiani (30) merasa gugup jelang pertandingan Asian Para Games (APG) 2018

Tak Lolos Klasifikasi hingga Harus Pindah Cabor, Putu Christiani Gugup Jelang Pertandingan APG 2018
Istimewa
Putu Christiani 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Atlet Bulutangkis difabel Bali, Putu Christiani (30) merasa gugup jelang pertandingan Asian Para Games (APG) 2018 di Jakarta, tanggal 6-13 Oktober 2018.

Para atlet difabel/disabilitas Indonesia tengah bersiap menyambut pesta olahraga difabel/disabilitas se-Asia yang rencananya akan dibuka Sabtu (6/10/2018) malam.

Christiani yang merupakan satu di antara atlet tuna daksa Indonesia, yang akan ikut bertanding di APG 2018 cabang olahraga (cabor) bulutangkis nomor tunggal putri kategori SU5 ini, berujar bahwa ia merasa gugup menjelang pertandingannya.

“Gugup banget, gugupnya karena (APG 2018) pertandingan saya yang pertama di cabang olahraga badminton,” ucapnya saat dihubungi Tribun Bali, Jumat (5/10/2018).

Ia bercerita bahwa saat mengikuti pelatnas untuk persiapan APG 2018 pertama kali di bulan Januari 2018, ia merupakan atlet atletik, namun semua berubah setelah ia mengikuti test event di China.

Saat test event di China ia tidak lolos klasifikasi sehingga ia pindah ke cabor Bulutangkis/Badminton.

“Saya baru pindah ke badminton ini habis lebaran (Juni) setelah test event di China kemarin. Di Cina Open kemarin saya masih ikut atletik bulan April atau Mei, terus pulang dari sana sebelum lebaran itu saya pindah ke Badminton. Saat test event di China itu saya tidak lolos klasifikasi, makanya saya pindah dari atletik yang sudah 10 tahun saya geluti ke badminton. Tanggal 3 (Oktober) kemarin saya klasifikasi (badminton) di Istora dan saya lulus, saya bisa main di Asian Para Games,” ucapnya.

Pindah ke cabor baru membuat ia menemukan beberapa kendala.

Walau sebelumnya ia sudah biasa bermain bulutangkis/badminton bersama teman-temannya di Bali, namun ia mengaku baru mempelajari teknik maupun cara bermain yang benar saat pelatnas di Solo.  

“Sangat terkendala, soalnya di atletik kemarin saya di kategori lempar (cakram dan lembing), jadi di sana yang sangat diperlukan itu power/tenaga, daya tahan itu cuma beberapa persen, sekarang di badminton itu daya tahan hampir dibutuhkan 80 persen lebih, jadi untuk membangun daya tahan itu, untuk membuat nafas kita lebih panjang dan bisa main sampai perpuluh-puluh menit itu sangat susah sekali. Kalau di sekolah atau saat gak pelatnas saya biasa main sama teman-teman saya di SLBN 2 Buleleng, setiap sore biasa main, saya bisalah kalau sekadar main,  tapi untuk teknik yang benar atau cara bermain yang benar itu saya baru belajar benar-benar di Solo (tempat pelatnas) ini dari pelatih saya mbak Ambar,“ ujarnya.

Halaman
12
Penulis: Putu Dewi Adi Damayanthi
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved