Hari Mebasa Bali di Denpasar Dilaksanakan Dua Kali Seminggu

Berbahasa Bali di Kota Denpasar dilaksanakan pada hari Rabu, Kamis, Purnama, Tilem, Hari jadi Kota Denpasar, serta hari jadi Pemprov Bali

Hari Mebasa Bali di Denpasar Dilaksanakan Dua Kali Seminggu
Istimewa
Peresmian Papan Nama Mebasa Bali di beberapa titik Kota Denpasar, Jumat (5/10/2018) kemarin. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rahina mebasa (berbahasa) Bali di Kota Denpasar dilaksanakan pada hari Rabu, Kamis, Purnama, Tilem, Hari Jadi Kota Denpasar, serta Hari Jadi Pemprov Bali.

Sedagkan untuk penggunaan pakaian adat Bali dilakukan hari Kamis.

Hal tersebut sesuai Surat Edaran (SE) Wali Kota Denpasar Nomor 836 Tahun 2018 tertanggal 2 Oktober 2018 tentang Hari penggunaan busana adat Bali, Pelindungan penggunaan bahasa, aksara, dan sastra Bali serta penyelenggaraan bulan bahasa Bali serentak di Kota Denpasar.

Surat edaran ini merupakan bentuk tindak lanjut atas instruksi Gubernur Bali Nomor 2331 Tahun 2018 tentang Pelaksanaan Pergub Bali Nomor 79 Tahun 2018 tentang Hari Penggunaan Busana Adat Bali, dan Pergub Bali Nomor 80 Tahun 2018 tentang Perlindungan dan Penggunaan Bahasa, Aksara dan Sastra Bali serta Penyelenggaraan Bulan Bahasa Bali secara serentak di seluruh Bali.

Hal ini akan mulai dilaksanakan tanggal 11 Oktober 2018 mendatang.

Wali Kota Denpasar, IB Rai Dharmawijaya Mantra mengatakan Kota Denpasar telah menetapkan terlebih dahulu Rahina Mebasa Bali pada hari Rabu.

Hal ini tertuang dalam Surat Edaran Wali Kota Denpasar Nomor 434/1419/BKPP tertanggal 28 September 2016.

“Kebetulan saat ini kita telah menetapkan pada hari Rabu, sehingga dengan adanya Pergub ini maka rahina mebahasa Bali di Kota Denpasar bertambah, selain mengikuti sesuai Pergub, mebasa Bali juga dilaksanakan pada hari Rabu,” katanya, Senin (8/10/2018).

Ia berharap dengan adanya ruang yang lebih pada penggunaan Bahasa Bali di Kota Denpasar, kedepan Bahasa Bali dapat membumi di tanah Bali.

Ini juga sebagai upaya melestarikan dan mengembangkan bahasa daerah sebagai kearifan lokal yang harus terus dijaga kelestarianya.

“Ini sangat baik, dengan semakin seringnya bahasa Bali digunakan dalam keseharian di Bali, maka diharapkan kedepanya bahasa Bali tetap ajeg dan lestari,” katanya. (*)

Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved