Tertipu Koperasi Bodong

Dewi Menangis di Depan Anggota DPRD Bali, Satu Desa di Tabanan 200 Warga Tertipu Koperasi Bodong

Dewi, satu diantara ribuan nasabah di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) bodong menangis saat menceritakan kronologis dirinya tertipu oleh KSP

Dewi Menangis di Depan Anggota DPRD Bali, Satu Desa di Tabanan 200 Warga Tertipu Koperasi Bodong
Tribun Bali/Putu Supartika
Para nasabah yang tertipu koperasi bodong mengadukan nasibnya ke DPRD Provinsi Bali, Senin (8/10/2018). Ribuan nasbah diduga tertipu hingga merugi sekitar Rp 153 miliar. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dewi, satu diantara ribuan nasabah di Koperasi Simpan Pinjam (KSP) bodong menangis saat menceritakan kronologis dirinya tertipu oleh KSP tersebut, di depan anggota DPRD Provinsi Bali, di Denpasar, Senin (8/10).

"Pada awalnya saya punya utang. Lalu datang pihak koperasi menawarkan penyelamatan aset. Mereka menawarkan saya bisa dapat kredit lebih besar di sebuah bank. Mereka juga janji memberi bunga 1 persen plus cash back 3 persen," kata Dewi.

Ia mengatakan, ada kejanggalan ketika ia mengajukan kredit Rp 2,2 miliar tanpa ada direksi bank turun untuk melakukan survei ke rumahnya di Pejaten, Tabanan.

"Kenapa bank memberi Rp 2,2 miliar tanpa ada direksi turun? Lalu saya diajak ke notaris dan dijelaskan singkat-singkat saja. Kalau seperti ini kasusnya kami tidak pernah terbayangkan untuk mengajukan kredit Rp 2,2 miliar yang pada akhirnya di notaris tidak melihat cek sebesar Rp 2,2 miliar itu," tuturnya.

Ia sampai bertanya dimana uang maupun ceknya. Esoknya pihak Koperasi Simpan Pinjam membawakan uang tunai ke rumahnya.

"Saya tidak tahu, uang itu tidak masuk ke rekening saya langsung dari bank, melainkan saya dibawakan oleh pihak koperasi. Buku rekening sampai detik ini tidak diperlihatkan. Bapak dewan wakil kami, tempat kami mengadu. Sekarang rumah saya mau disita. Saya dikerjar-kejar bank," katanya dan tangisnya mulai pecah.

Tak hanya Dewi, beberapa nasabah lainnya juga terlihat menangis.

"Saya selaku rakyat ini sudah dibohongi dan dibodohi. Saya mohon bapak dewan memberikan rekomendasi agar tidak terus dikejar pihak bank. Kami tidak punya tempat lagi," katanya.

Ia mengatakan, di Pejaten ada 11 orang yang kena penipuan dan semuanya dalam jumlah miliaran rupiah. Bahkan di Tabanan, dalam satu desa yaitu Desa Dauh Peken 200 warganya menjadi korban penipuan ini.

"Di mana kami tinggal? Kami tidak punya rumah lagi, Pak. Keluarga kami tersiksa terus dikejar bank. Sampai di manapun, kami akan berjuang, Pak," katanya.

Halaman
1234
Penulis: Putu Supartika
Editor: Ady Sucipto
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help