Program Busana Adat Bali ke Sekolah Dapat Respon Positif Para Siswa, Non-Hindu Menyesuaikan

Para siswa juga mendukung program ini. Seperti yang disampaikan seorang siswi SMKN 4 Denpasar, A.A Ayu Peedi Purnama Dewi.

Program Busana Adat Bali ke Sekolah Dapat Respon Positif Para Siswa, Non-Hindu Menyesuaikan
Tribun Bali/Dayu Surya
Siswa SMKN 4 Denpasar sedang menyalami gurunya dengan menggunakan busana adat Bali, Kamis (11/10/2018). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hari pertama pelaksanaan penggunaan busana adat Bali ke sekolah Kamis (11/10/2018) berjalan lancar.

Para siswa juga mendukung program ini. Seperti yang disampaikan seorang siswi SMKN 4 Denpasar, A.A Ayu Peedi Purnama Dewi.

Baca: Sugar, Anjing Pelacak Dikerahkan Polda Bali Untuk Pengamanan IMF-WB, Ini Kemampuannya

Baca: Gara-gara Hal Sepele, Dua Pria ini Saling Bacok Pakai Golok di Jalanan, Keduanya Bersimbah Darah

Baca: Singapore Airlines Jajaki Penerbangan Terpanjang di Dunia, Terbang Selama 18 Jam dan 45 Menit

Baca: Ngurah Karyadi Nekat Lompat dari Ketinggian 2 Meter Saat Gempa Tengah Malam, Tulang Kaki Retak

“Saya merasa bahagia karena bisa membangun dan melestarikan budaya ajeg Bali di sekolah,” tuturnya. Ia berharap pakaian yang digunakan tetap sopan dan sesuai aturan.

Menurut aturan, siswa atau pegawai pemerintahan lain yang non Hindu juga diwajibkan mengikuti aturan berbusana adat, baik dengan menggunakan busana adat Bali atau busana adat masing-masing.

Satu di antara sekolah di Denpasar juga menyambut baik kebijakan ini tetapi dengan penyesuaian.

“Penggunaan itu sangat baik, ke depan perlu dilakukan penyesuaian, barangkali perlu kita sederhanakan, perlu kita sempurnakan, kita sempurnakan. Sehubungan dengan anak-anak di sekolah ini ada yang sekolah praktik, ada yang praktik kitchen, ada laundry, untuk sementara yang praktik di kitchen, masih tetap menggunakan pakaian kitchen karena yang praktik di sini berhubungan dengan keamanan,” ujar, Waka Kesiswaan SMKN 4 Denpasar, I Made Suarta.

Suarta menambahkan, agar anak-anak mendapatkan pengalaman yang sama untuk menggunakan pakaian adat, pihak sekolah kemungkinan akan menggeser mata pelajaran praktik di hari Kamis.

“Jadi semua anak di hari Kamis, bisa menggunakan pakaian adat dengan baik,” ucapnya.

Untuk pelaksanaan kebijakan ini, pihak sekolah juga menyarankan untuk menyamakan model pakaian yang digunakan. “Kalau bisa di seluruh Bali, modelnya sama, bahannya yang berbeda, barangkali itu nanti,” katanya lagi.

Kebijakan yang tertuang pada Pergub No 79 ini juga didukung Ketua PHDI Denpasar Barat, I Made Arka, menurutnya, hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan Bali, PHDI akan mendukung. Namun untuk penggunaan bahasa Bali, ia menyampaikan hal tersebut masih relatif.

“Kalau terkait bahasa Bali masih relatif, mungkin kebanyakan masih menggunakan bahasa Indonesia karena tidak terlepas dari Sumpah Pemuda. Takut menggunakan bahasa Bali, bukan begitu, tapi kita harus ngerti. Bahasa Inggris pun harus ngerti karena itu bahasa Internasional,” jelasnya.
Namun demikian, menurutnya bahasa Bali juga jangan dilupakan.

“Kita berharap bahasa ibu (bahasa Bali) jangan dilepas, karena bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi, bahasa Bali juga sebagai alat komunikasi di keluarga, bukan di luar,” tambahnya.

Artinya, bahasa Bali bisa digunakan untuk berkomunikasi di ranah keluarga sedangkan bahasa Indonesia digunakan untuk di luar rumah. Hal itu untuk mengurangi miskomunikasi jika lawan bicara bukanlah orang Bali atau tidak mengerti bahasa Bali.(*)

Penulis: Ida Ayu Suryantini Putri
Editor: Alfonsius Alfianus Nggubhu
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved