Pesan Bahan Baku Gorila Dari Luar Negeri, Gede Romy Dituntut 15 Tahun Penjara

Gede Romy Andiana alias Romy (27) hanya bisa menunduk saat mengetahui dirinya dituntut pidana penjara selama 15 tahun

Pesan Bahan Baku Gorila Dari Luar Negeri, Gede Romy Dituntut 15 Tahun Penjara
Tribun Bali/Putu Candra
Romy dituntut 15 tahun penjara. Ia dinilai bersalah melakukan tindak pidana narkotik, yakni memesan bahan baku campuran tembakau gorila. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Gede Romy Andiana alias Romy (27) hanya bisa menunduk saat mengetahui dirinya dituntut pidana penjara selama 15 tahun oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU), kemarin di Pengadilan Negeri Denpasar. Pria yang bekerja sebagai supir freelance ini dinilai bersalah terkait pemesanan bubuk putih yakni AB-Fubinaca dari Hongkong.

Bubuk berwarna putih (AB-Fubinaca) yang dipesannya dari luar negeri itu merupakan bahan baku campuran untuk membuat tembakau gorila. Terhadap tuntutan jaksa, Romy melalui penasihat hukumnya akan mengajukan pembelaan tertulis. Nota pembelaan akan dibacakan pada sidang pekan depan.

Sementara dalam surat tuntutan yang dibacakan Jaksa I Wayan Sutarta dijelaskan, terdakwa Romy dinilai secara sah dan meyakinkan terbukti bersalah melakukan tindak pidana narkotik.

Sebagaimana dakwaan alternatif kedua jaksa disebutkan, bahwa Romy tanpa hak atau melawan hukum memiliki, menyimpan, menguasai, atau menyediakan narkotik Golongan I bukan tanaman yang beratnya melebihi 5 (lima) gram.

Oleh karena itu, Romy dijerat Pasal 112 ayat (2) Undang-Undang No.35 tahun 2009 tentang Narkotik. "Menuntut supaya majelis hakim yang memeriksa dan mengadili perkara ini memutuskan, menjatuhkan pidana kepada terdakwa Gede Romy Andiana alias Romy, dengan pidana penjara selama 15 tahun dikurangi selama menjalani tahanan sementara. Perintah terdakwa tetap ditahan," tegas Jaksa I Wayan Sutarta dihadapan majelis hakim pimpinan Esthar Oktavi.

Selain dituntut pidana badan, pemuda asal Bangli dan tinggal di Jalan Raya Tuban, Desa Tuban, Kuta, Badung ini juga dikenakan hukuman tabahan. Berupa denda pidana denda sebesar Rp 2 miliar, subsider enam bulan kurungan.

Diberitakan sebelumnya, Dibeberkan dalam surat dakwaan jaksa, bahwa Romy ditangkap usai mengambil paket serbuk pesanannya itu di Kantor Pos Besar, Renon, pada 12 April 2018, sekitar pukul 09.30 Wita. Saat mengambil paket tersebut, Romy rupanya tidak sadar kalau sudah dipantau oleh petugas Bea Cukai. Karena paket itu masuk ke Bali melalui Bandara Ngurah Rai.

Isi dakwaan itu diperkuat dengan keterangan saksi dari pihak Bea Cukai yang dihadirkan di sidang. Saksi menyatakan, sejak paket itu tiba di bandara, petuga sudah menaruh curiga. Karena saat dipindai isinya berupa serbuk. "Kalau bubuk kami memang atensi," ujar saksi dari Bea Cukai kala itu.

Berbekal identitas yang tertera pada kemasan paket tersebut, pelacakan pun dilakukan petugas Bea dan Cukai. Identitas yang tertera di kemasan itu atas nama Gede Rusdiana. Namun saat mengambil paket, Romy meminjam Kartu Tanda Penduduk (KTP) Gede Rusdiana, agar bisa mengambil paket tersebut di Kantor Pos. Alasannya, KTP terdakwa hilang.

"Setelah terdakwa menyelesaikan
administrasi dengan petugas kantor Pos Renon Denpasar kemudian terdakwa diarahkan masuk ke ruangan kantor Bea dan Cukai yang ada di Kantor Pos Renon Denpasar," ungkap Jaksa Wayan Sutarta saat membacakan isi surat dakwaan.

Saat petugas Bea Cukai Ngurah Rai menanyakan asal muasal paket yang dipesannya itu, Romy mengaku membelinya dari Hongkong secara online. "Selanjutnya terdakwa beserta barang bukti yang telah diamankan dibawa ke kantor Polda Bali. Dari hasil pemeriksaan laboratorium, ternyata 457 gram serbuk itu positif mengandung sediaan AB-Fubinaca yang masuk kategori narkotik golongan I sesuai Lampiran Permenkes (satu) Nomor 41 tahun 2017," terang Jaksa Wayan Sutarta. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved