Jepang Rasa Bali dan Bali Asli Sebagai Jalan Bakti Kepada-Nya

Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III, Jumat (12/10/2018) malam menampilkan dua garapan

Jepang Rasa Bali dan Bali Asli Sebagai Jalan Bakti Kepada-Nya
Istimewa
Penampilan SMAN 1 Ubud dan SMAN 1 Kuta Utara dalam gelaran Bali Mandara Nawanatya III, Jumat (12/10/2018) malam. 

Laporan Wartawan Tribun Bali, I Putu Supartika

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Gelar Seni Akhir Pekan Bali Mandara Nawanatya III, Jumat (12/10/2018) malam menampilkan dua garapan yaitu garapan SMAN 1 Ubud dan SMAN 1 Kuta Utara.

Pementasan yang berlangsung di Kalangan Madya Mandala Art Center, Denpasar ini diawali oleh penampilan dari SMAN 1 Ubud yang membawakan garapan berjudul Mutru Langit.

Dimana mereka menghadirkan suasana khas negeri Sakura yang dipadukan dengan kebudayaan Bali.

Menurut Penata Tari SMAN 1 Ubud, A.A. Gede Tugus Hadi Iswara, Mutru Langit memang terinspirasi dari tradisi khas Jepang.

“Mutru Langit menggunakan alur dari obon atau bon odori, dimana itu dikenal sebagai peringatan untuk leluhur di Jepang, jadi kami membuat secara Balinese, alur Jepang rasa Bali-lah,” kata Gus Hadi.

Penari SMAN 1 Ubud yang sudah akrab dengan tarian Bali harus beradaptasi dengan kebudayaan berupa pakem tarian khas Jepang.

“Butuh waktu lama bagi para penari untuk belajar, tapi mereka tetap semangat dan antusias mempelajari kebudayaan yang menurut mereka baru ini,” imbuhnya.

Banyak simbol yang digunakan SMAN 1 Ubud guna memperlihatkan sisi pemujaan ala Jepang, seperti dibuatnya lampion berwarna merah besar sebagai simbol matahari yang disakralkan masyarakat Jepang.

Tak hanya itu, penghormatan masyarakat terhadap alam, sesama manusia, dan Sang Pencipta layaknya ajaran Tri Hita Karana di Bali yang telah menjadi bagian dari kearifan lokal Bali.

Halaman
12
Penulis: Putu Supartika
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help