Lahan Pertanian Sempit Tak Lagi Jadi Pembatas di Era Industri 4.0

Alih fungsi lahan pertanian, terutama di Bali, akhir-akhir ini kian tak terbendung

Lahan Pertanian Sempit Tak Lagi Jadi Pembatas di Era Industri 4.0
Tribun Bali/I Wayan Sui Suadnyana
Dekan Fakultas Pertanian Unud, Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, MS saat ditemui Tribun Bali usai membuka Seminar Hibah Penelitian Dosen di Kampus Unud, Sudirman, Denpasar, Bali pada Jum'at, (12/10/2018) pagi. 

Laporan wartawan Tribun Bali, I Wayan Sui Suadnyana

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Alih fungsi lahan pertanian, terutama di Bali, akhir-akhir ini kian tak terbendung.

Banyak kalangan menilai, masalah ini akan semakin menyulitkan untuk pengembangan sektor pertanian.

Namun, di zaman teknologi sekarang ini, terlebih telah memasuki era industri 4.0, lahan pertanian yang sempit sebenarnya tidak lagi menjadi kendala yang berarti.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Dekan Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Ir. I Nyoman Rai, MS saat ditemui Tribun Bali usai membuka Seminar Hibah Penelitian Dosen di Kampus Unud, Sudirman, Denpasar, Bali pada Jumat (12/10/2018) pagi.

Prof. Rai mengungkapkan, justru yang menyebabkan kendala saat ini adalah sistem pola pikir yang masih konvensional dan tidak ada kemauan untuk menciptakan atau menggunakan teknologi modern.

"Kalau kita hanya berpikir pertanian konvensional yang hanya menggunakan lahan seperti (saat) ini, ya pasti menjadi kendala. Tapi sekarang ada pertanian (menggunakan) teknologi yang kaitannya dengan era industri 4.0," terangnya.

Dalam era industri 4.0, papar Prof. Rai, pertanian bisa dibuat dengan bertingkat, tidak hanya mengandalkan sinar matahari tetapi bisa membuat areal pertanian dalam suatu gedung.

"Dalam satu are, kita bisa tingkatkan menjadi 20 are," jelasnya.

Pertanian seperti ini menggunakan sinar dan nutrisi buatan.

Halaman
12
Editor: Irma Budiarti
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved